Selamat datang para jones yang haus akan cerita baper ^^

Showing posts with label Short Story. Show all posts
Showing posts with label Short Story. Show all posts

Jun 28, 2016

Short Story: Move on (4)

Bagaimanapun juga kalau aku mati nanti aku tak akan bisa bersama dengan niall lagi, dan kalau aku diijinkan hidup pun sepertinya aku akan menganggap niall seperti bukan siapa siapa untukku,
untuk menjengukku saja niall enggan.
astagaaaa

kenapa sih niall berpikir seperti itu ? apakah dia sama sekali tidak tau apa yang aku rasakan sekarang,
aku sangat ingin dijenguk olehnya seperti apa yang zayn lakukan padaku
dia selalu rajin menjengukku, bahkan membelikanku buah buahan namun aku tak kunjung sadar sadar :(

bahkan dia menemaniku semalaman, memegangi tanganku dan selalu berdoa untuk kesembuhanku..

bukan berati niall tidak seperti itu,
niall menurutku hidupnya menjadi aneh, seperti ada perasaan galau yang sedang menimpanya,
hampir setiap hari dia membolak balik fotoku di tab nya
lalu menangis.. dan selanjutnya begitu..

ah.. apakah kalau aku hidup nanti aku benar benar melupakan niall?
apakah aku benar benar melupakan zayn ?
atau aku benar benar melupakan 1d saat dulu mereka masih cupu sekali
sekarang mereka sudah setenar ini ;)

aku benar benar bangga mempunyai sahabat sahabat seperti mereka
waktu kita kecil, louis adalah pemimpin kita, kemanapun kita pergi berenam kita selalu saja di pimpin oleh louis
karena louis adalah yang tertua dan bijaksana sekali

sesekali harry membantah, karena merasa tidak adil, karena dia lah yang selalu kami anggap si bocel, bungsu atau keriting :D
Hahahaa, pasti kalau dia gak mau kalah bawaannya nangis mulu,
namun niall dengan sabarnya menenangkan hati harry :)

astagaaaaa
kenapa aku jadi flashback seperti ini.. aku harus menghilangkan kenangan kenangan itu kalau ingin hidup kembali, tanpa harus dihilangkan pun kenangan itu sepertinya akan menghilang dengan sendirinya kan

aku tertidur di sofa kamar rawat inap ku, sepertinya orang tuaku belum datang menjengukku, ah sudahlah, tak ada yang menjenguk pun juga tak apa, aku kan tak akan bangun
aku masih ingin mengingat masa masa indah bersama 1d ;)
mereka lebih manis saat dulu, bukan sekarang

saat aku mulai memejamkan mataku, kulihat seseorang membuka pintu kamarku
siapa itu?
rambut pirang dengan mata hijau dibalik kaca matanya , niall ?
yah !! itu niall!

dia membuka kacamatanya dan masuk dengan kesusahan dengan boneka beruang besar yang dia bawa, juga kue.
kue ?
aku kan tidak ulang tahun..

dia pun duduk disebelah ragaku yang tertidur pulas,
dia meletakkan beruang dan kuenya ia letakkan dikasur.

Niall memandangku, lama sekali..
lalu dia menggenggam tanganku dengan kencang,

"hey! sampai kapan kau akan tertidur seperti itu"
katanya padaku.. dia berbicara padaku kah?

"aku tau kamu tak akan menjawab, tapi aku tau kamu bisa mendengarkannya bukan!"
katanya lagi

"hmmm.. mungkin kamu bisa bilang aku gila disini, karena aku berbicara dengan orang yang sedang tidur pulas, maafin aku seminggu ini aku tak menjengukmu.. aku tau aku salah, aku menganggap bahwa kalau aku berada disampingmu terus menerus kamu akan sial, dan kamu akan merasa kesakitan, tapi ternyata pemikiranku selama ini salah, aku emang bodoh!"
katanya sambil memukuli dirinya sendiri.

"kamu gak salah niall" bisikku, dan tak akan mungkin terdengar ke telinganya..

"aku mohon.. hari ini saja kamu bangun pleasee, aku mau nyanyiin lagu buat kamu, aku ingin merayakan happy anniversary kita, ini aku udah beliin kue buat kita, ayo sayang bangun.. come on.. aku ingin kita merayakan bersama"

niall terdiam beberapa saat, seperti menunggu jawaban dariku.

"oke, aku tau kamu belum bisa bangun sekarang, jadi mari kita rayakan dalam keadaan begini okay ;)"

katanya sambil tersenyum manis padaku,
aku bahkan tidak tahu bahwa ini adalah anniv ku dengannya, dan !! aku ingin sekali bangun dan merayakannya! tapi kalaupun aku bangun sekarang
aku hanya mengacaukan semuanya, karena..
aku sudah melupakan niall :(

niall menempelkan lilin angka 1 diatas kue tiramisu itu, dan menyalakan api diatasnya,
niall tersenyum padaku
"oke sayang, nanti abis aku nyanyiin lagunya, kamu tiup yah lilinnya oke"

"he-emmm HAPPY ANNIV TO US HAPPY ANNIV TO US HAPPY ANNIV HAPPY ANNIV ..... HAPPY ANNIV TO US"

niall mendekatkan kue itu kearah wajahku, niall terdiam, berharap aku meniupnya..

"oke kali ini aku tiupin yaah"

niall pun meniup lilin itu, sambil menitikan air mata, niall meletakkan kue itu disamping beruang besar, dan menangis ditanganku yang terlilit infus aku sama sekali gak tau apa yang harus aku lakuin sekarang aku hanya bisa melihatnya, menyentuhnya pun aku tak bisaa aku berusaaha, terus berusaha untuk menepuk bahunya, namun yang ada aku hanya terjatuh.. aku bangkit dan mencoba menghapus air matanya tapi tidak bisa juga! aku hanya menembus kulitnya

Aku hanya melihat tubuhku lemas diatas ranjang dengan tangisan niall disebelahku, saat aku hendak berusaha sekuat tenaga untuk menyentuhnya, wanita seperti malaikat itu datang kembali.

"sudahkah kau temukan pilihanmu?" tanya dia dengan senyum yang begitu manis.

aku hanya menganguk lemas dan melihat wajah niall yang begitu sedih sembari meletakkan kue diatas meja.

"jadi, apa pilihanmu?"

air mataku tak bisa tertahankan

"lebih baik aku mati sekarang saja, daripada aku hidup dan melupakan kejadian ini"

Short Story: Move on (3)

Nampak kesedihan pada wajah niall saat itu, aku tahu di rumah sakit sekarang aku sedang terbaring koma dan aku malah berjalan kemana mana untuk membuntuti niall, keseharian niall, dan entah sampai kapan ini akan berakhir pilihan ada 2, yaitu hidup dan mati.

Niall saat ini tertidur pulas di ranjangnya, dengan tab yang ada ditangannya, aku mengambil tab nya dan melihat galeri fotonya, hanya ada fotoku, foto aku, dan foto aku juga, tak ada sama sekali fotonya atau perempuan lain!
ah maybe ini hanya folder khusus fotoku, aku melihat folder lain, dan kudapati fotoku juga di folder lain.

apakah niall benar benar mencintaiku?
aku pun meletakkan tab seperti tempat semula, aku tidur disebelahnya,
bibirnya yang tipis, hidungnya yang mancung, dan yang kurindukan sekarang adalah saat dia membuka mata, nampak matanya yang hijau bersinar kearah mataku.. i miss it!

aku menyentuh pipinya, maksutku, mencoba menyentuh pipinya..
aku tak ingin setiap hari seperti ini
aku mau tubuhku, aku mau kembali ke dalam tubuhku
dan aku ingin memelukmu :(

@
@
@

aku terbangun dan kulihat sesosok wanita yang sangat bercahaya melihat kearahku

"ah sudah bangun rupanya"
aku mengucek mataku, mencoba melihatnya dengan jelas,
ah? apakah dia malaikat ? dia bisa melihatku?
"siapa kamu?"
"kau tertidur cukup lama" katanya tanpa menjawab pertanyaanku
"kamu sedang koma yah?"
"iya, bagaimana kamu tau? siapa kamu?"
"dengarkan yah, kamu ga perlu tau siapa aku, aku cuma ingin membantumu saja"
"membantu aku?"
"iya, aku ingin kamu segera bangun"
"aku pun juga ingin seperti itu"
"tapi kamu gak akan bisa bangun lagi"

"hah?"
"kenapa aku gak bisa bangun lagi?"

"kamu seharusnya sudah meninggal, namun aku masih memberikan detak jantung padamu, karena aku bisa melihat cinta kamu seseorang"
"detak jantung? aku sungguh tak mengerti maksud perkataanmu, aku yang jelas aku ingin hidup lagi, kembali ke jasadku!"
"oke aku akan mengembalikan ke tubuhmu, tapi.."
"benarakah? tapi ? tapi kenaapa?
"kamu akan mengalami hilang ingatan, dan ingatanmu tentang kekasihmu, keluargamu bahkan aku pun akan hilang?"
"jadi? aku akan melupakan niall?"
"iya"

aku terdiam,semua ingatanku bersamanya atau bahkan tentang one direction akan hilang ?
ah mana mungkin, mereka semua kan selalu ada didalam pikiranku..
tapi..

"bagaimana mungkin ingatanku akan hilang semuanya?"
"aku tidak bisa menjelaskannya, oke sekarang kamu pikirkanlah, kamu mempunyai dua pilihan yang berbeda sekarang kamu mati, atau kamu hidup dalam keadaan tidak ingat apapun"
"lebih baik aku mati daripada aku kehilangan ingatanku tentang niall !!"
"oke itu pilihanmu"
"tidak! aku pun juga tidak ingin mati, kalau aku mati nanti sama saja aku tidak bisa bertemu dengan niall"
"hmm.. aku tau... it's complicated for you right! sekarang aku beri waktu kamu 48 jam untuk berpikir, aku akan datang lagi menjengukmu oke"
"ah.. baiklah"

Short Story: Move on (2)

Aku tau aku baru saja jadian dengannya beberapa hari yang lalu, pdkt saja dia berada diluar negri dan baru sekarang dia ke indonesia karena ada touring di asia tenggara, aku sangat senang melihat e-mailnya saat itu, bahwa dia akan ke indonesia,dan kali ini juga kita di pertemukan.

tanpa sadar orang orang sekeliling kami yang sedang menikmati bakso langsung menoleh kehadapan kami, posisi kami yang saat itu tidak mengenakan, aku pun langsung berdiri, membersihkan debu yang ada di bajuku

siyal, kali ini aku malu untuk berkali kalinya, apakah ini hari sial yang pernah ada !!??
"gapapa dek?" tanya penjual bakso padaku
"ah gapapa bang, maaf bang jadi bikin heboh"
orang orang yang sedang makan pun kembali melanjutkan aktifitasnya masing masing, cuek. yah inilah jakarta dan orang orangnya, niall pun berdiri, kupluk jaketnya pun terbuka.

OMG OMG orang orang bakal tau semuanya kalo niall ada disini,
"ssst itu niall one direction?"
"mana mana"
"hah? masa sih?"
"mungkin bukan"
"ITU NIAAL KYAAAAAAA"

bener kan dugaan aku !! semua perempuan yang ada disekitarku langsung berlari kearah niall, dengan sigap aku langsung membantu niall berdiri dan menggandeng tangannya untuk lari

"ASSHHH SIYAL!!" teriak niall sambil berlari, niall pun membenarkan lagi kupluknya yang terbuka
"nih pake sunglasses aku cepet!"
niall langsung memakainya.

kami pun berlari dengan kencang, sangat kencang! aku menoleh kebelakang, yaampun!! ini dikejar fans apa dikejar massa ? dan semuanya rata rata yang mengejar niall adalah para gadis, wanita, ibu ibu, tante tante atau apalah tetap saja mereka perempuan

semakin kami berlari, semakin banyak yang mengejar! aishh aku sudah tidak kuat lagi, rasanya kaki ini sudah gak kuat lari, nafasku terengah engah.. aku cape sekali, matahari rasanya ada 2, tidak. ada 3 ! aku tak sanggup lari lagi

"hey! kamu kenapa?"
"aku ga kuat lagi buat lari"

BRUK!
tanpa sadar aku menabraki seseorang, mataku berkunang kunang, aku berjalan mundur tanpa keseimbangan, kudapati muka orang yang kutabrak tadi, zayn?
mataku semakin berkunang, aku tak sanggup lagi berjalan, aku semakin mundur mundur kearah jalan raya, kulihat wajah niall dan zayn panik, ada apa?
aku pun menoleh kesampingku, tampak mobil melaju kencang kearahku... dan cahaya terang

@
@
@

kudapati diriku tertidur dijalanan dengan wajah bermake up darah, niall dan zayn mencoba membangunkan aku, namun aku tak kunjung membuka mataku,
oh tidak, apakah aku sudah mati ?
kulihat tanganku sendiri, hah ? akupun tak dapat melihat tanganku, aku berjalan mendapati cermin di samping toko kecil, tak kudapati wajahku badanku
bahkan bayanganku?!

aku melihat mobil ambulan datang, lalu aku diangkat masuk ke mobil tersebut oleh zayn, niall hanya duduk dipinggir jalan dengan sedihnya, nampak para penggemarnya yang tadi dengan agresif meminta tanda tangannya, kini terdapat wajah duka pada mukanya. aku menghampiri niall

"nial, aku baik baik saja, kamu jangan cemasin aku yah"

tak ada jawaban,
yah seperti dugaanku, sekarang aku hanyalah sebuah arwah dari dunia lain, yang masih berada di dunia nyata, aku dapat melihat mereka namun mereka tak bisa melihatku aku dapat merasakan hangatnya tubuh niall saat itu, air mata membasahi wajahnya.. aku mencoba mengusap air mata itu, namun.. nihil yang kudapati hanya menembus kulit wajahnya

Dengan sekuat tenaga aku mencoba menghapusnyaa, kucoba dan kucoba lagi, namun niall semakin bersedih, air mata tersebut membanjiri wajahnya
aku pun menangis! aku menangis tak dapat menghapus air matanya !
aku gak mau melihat niall yang seperti ini

"NIALL LOOK AT ME ! I'M OKAY!! I'M FINE !! DONT BE CRYING NIALL PLEASEE!" aku teriak dihadapannyanamun, tak ada respon terhadapnya, mungkin aku akan teriak sekencang apapun juga dia tak akan mendengarku..

zayn pun datang menghampiri niall dengan mobilnya
"let's go niall!"
"where?"
"Hospital, lo ga mau jenguk your girlfriend hah?"
"no"

dadaku seperti tertusuk, sangat dalam, mendengar kata katanya ..

zayn keluar dari mobil, membawa masuk niall dengan paksa

"apa apaan sih !!"
niall mendorong zayn
"lo musti ikut ke rumah sakit sekarang, cewe lo butuh lo sekarang"
"gue bilang ENGGAK !"
"lo tuh emang cowo bangsat yeh, cewe lo kecelakaan you know!"
"iya gue tau!!"
"lo ga punya hati apa?!"
"lebih baik lo aja yang kerumah sakit, dia lebih butuh lo daripada gue"
"what?"
"kalo dia sama gue, yang ada dia malah tambah parah sakitnya"
"what do you mean?"
"see! bersama gue dia dikejar kejar fans, dan sekarang dia malah kecelakaan, kalo gue ke rumah sakit bareng lo, yang ada dia malah tambah parah penyakitnya"
"jadi itu alesan lo hah ? oke terserah lo. kalo kita bukan satu grup the boys ! gue gabakal kenal lo lagi!"

zayn masuk kedalam mobil, dan membanting pintunya kencang kencang, niall terdiam, aku mencoba memeluknya dari belakang..

Short Story: Move on (1)

Niall seketika langsung narik tangan aku ketika aku kepergok jalan dengan zayn,
"jadi ini yang kamu maksut kamu sayang sama aku hah?!" teriak Niall
"ini gak seperti yang kamu liat! kamu salah paham"
"salah paham apa hah ?! kepercayaan aku, sayangnya aku sama kamu?! tapi sekarang kamu ... ah sudahlah"
Niall pergi begitu saja, aku mencoba meraih tangannya namun dia menolak dengan sangat kasar.
aku berjalan mengikutinya sambil menangis, zayn mengikutiku dari belakang, dan memelukku, seketika itu aku langsung teriak.
"kyaaaaaa"
"ngapain sih kamu nangisin dia hah !!" zayn memeluk tubuhku dengan erat, dia memegangi tanganku dengan kencang, aku tak bisa bergerak,
"LEPASIN ZAYN !!" teriak ku, namun genggamannya semakin kencang, memeluk tubuhku, menciumi bahuku
"KYAAAAAAAA" teriak ku semakin menjadi. Kulihat Niall menoleh kearahku, tatapannya datar, lalu dia menghela nafas sambil berlalu.
"BUKKK" terdengar suara pukulan yang kencang, kulihat zayn terjatuh dengan memar biru di sebelah bibirnya, harry ?

"Apa apaan sih?! lo gila apa ? itu pelecehan seksual!" Harry menarik kerah baju zayn, lalu menjatuhkannya ketanah.
"kamu gak apa apa? Are you okay?!" tanya harry padaku, sambil memperhatikan tubuhku ada yang luka atau tidak.
"i'm okay, just.."
"kenapa ?! kamu diapain ?"
"ehm.. um.. anyway aku mau mau ngejar niall dulu"

Aku langsung berlari mengejar niall, kemana dia ? Di kota tua sebesar ini, dan seramai ini, susah untuk mencari niall,
ARGGHHH WHAT SHOULD I DO NOW !! okayy.. tenangkan diri dulu, first, ini kota tua penuh dengan turis, dan orang yang berambut pirang like niall,
aku melihat sosok laki laki dari belakang berambut pirang sedang berjalan, maybe !! maybe it's niall :)

saat aku hendak kearah niall, ada seseorang memanggilku, aishhh.. aku menoleh dan kudapati louis dan liam "heyy !"
aku pun menghela nafas dihadapan mereka.
"whats?!" tanya liam, aneh saat melihat kekesalan di wajahku.
"hey, kok sendirian, tadi bukannya lo sama zayn?" louis melihat ke sekitarku, aku sendiri louis ==
"iya itu tadi" jawabku datar
"nih" liam melempar jus kaleng, secara reflek aku menangkapnya.
"thanks" jawabku
"loh itu bukannya niall" liam menunjuk kearah seseorang berambut pirang tadi, dan seorang perempuan disebelahnya.
WHATSS !! Siapa perempuan itu ?!! Deket banget lagi duduknya sama niall, niall juga !! ngapain coba ,malah rangkul cewe itu ! OBRAL BANGET !

Tanpa basa basi aku langsung samperin tuh niall, kulihat louis sama liam mengikutiku, aku gak peduli! aku langsung lempar jus kaleng itu kemuka
niall dari belakang, isi jus kaleng pun tumpah semua ke rambutnya !
"what the fack is that !!" teriak niall, wait.. sepertinya itu bukan suara niall.
cowo itu menoleh, ANJRIIT aku salah orang, dia bukan niall, jus kaleng yang sisa setengah ditanganku langsung aku lempar kebelakang
BLETAKK! "AW!!"
aku menoleh kebelakang, kaleng jus tersebut terlempar kearah kepala niall, dan kalengnya jatuh ketangannya, sekarang isi kaleng tersebut ada
dikepala niall yang asli.

"(**&^%$#%%^&**^%$#$%^&*(*&^%$" teriak tourist yang aku lempar jus kaleng tersebut dengan bahasanya, aku sama sekali tak mengerti apa yang dia ucapkan
"(*&^%$^&*&^%$$%%#$%$%^^^^^^^" APASIH ? cewenya juga ikut ikutan
"what you talking about?" tanyaku,
niall, liam, louis menyamperiku
"katanya dia tentara, dia akan minta tebusan berjuta juta sama lo" bisik liam disampingku
"HAH?!" jawabku shock ! apa apaan timbang jus doang!!
"dan kata cewenya, lo tuh pecun kurang ajar lo musti beliin baju yang baru buat pacarnya" bisik louis disampingku juga
"LAAH ?!" tambah shock aja aku dengernya.
Niall menggenggam tanganku, dan berbicara pada louis dan liam
"listen to me, kita minta maaf terus itungan ketiga langsung cabut!"
"kabur gitu?" tanya louis
"sstttt" aku, niall , liam mengingatkan
"oops" louis menutup mulutnya.

kami pun langsung menghadap kedua tourist iu yang masih marah marah dengan bahasanya,
"I'M SO SORRYYYYYY" teriak kami
niall pun memberi aba aba
"1.. 2.."
"wait, hitungan ketiga kabur atau setelah hitungan ketiga ?"tanya louis
"NOOOWWWW!!" spontan teriak kami padanya, langsung niall menarik tanganku dan berlari sekencang kencangnya, liam dan louis mengikuti dari belakang,
dan disusul oleh 2 tourist gila itu.

niall dan aku menabraki penjual topi, dan nampak topi dimana mana berserakan
"sorry.." kata niall pada penjual topi sambil berlari,
lalu aku melihat kebelakang, nampak louis dan liam, dan tourist itu semakin dekat !!
"niall, kayaknya kita bakal kekejar!!"
niall menoleh kebelakang,
"gimana kalo kita mencar aja" jawab louis
"lo sama niall kearah belakang museum, gue ama liam kearah gedung pos itu"
"oke, gue setuju, gimana?" kata niall
"okay"

gue sama niall pun berlari kearah belakang museum, dan mengumpet diantara penjual bakso. kulihat tourist itu kebingungan mencari kita, haaha maksutku,
mencari aku :D

kulihat niall nampak kecapean, nafasnya begitu berat dan rambutnya menjadi bau jeruk akibat ulahku tadi
"kamu gapapa?
aku kaget, saat aku menyadari aku melihat wajahnya sedari tadi
"ah um.. iya gapapa aku"
aku langsung salting dihadapannya, kenapa niall begitu baik terhadapku, padahal dia tau aku punya 2 kesalahan padanya
pertama, aku jalan bersama temannya zayn
kedua, aku melempar kaleng jus ke kepalanya
aishhh
aku begitu malu pada saat tourist itu aku kira niall, dan aku begitu takut kalau niall bakal marah padaku.

"kenapa kamu menutupi mukamu dengan tas seperti itu?" tanya niall padaku,
tanpa sadar aku menutup mukaku, aku langsung memakai tasku kembali.
"ah sepertinya tourist itu sudah gak ada"
aku langsung berdiri dari tempat persembunyian
"jangan berdiri dulu!" niall memperingatkanku, dan menarik tanganku untuk bersembunyi lagi,
saat itu aku kehilangan keseimbangan dikakiku, dan tersandung dengan konblok,
"whoaaaa"
aku pun terjatuh,
ada dua tempat pendaratanku, seperti adegan slowmotion aku memilih dulu daerah pendaratannku
pertama, aku bakal jatuh diantara gas elpiji 2kg, dan tempat penjual bakso menaruh piring piring kotor. ewhhh
kedua, aku bakal jatuh ke niall

ya ampuun, kalo aku jadi kaliann, apa yang harus aku lakukan,
oke !! harga diri
aku ga bakal malu maluin niall lagi dengan jatuh kehadapannya, aku bakal jatuh ke piring piring itu

aku pun menjatuhkan ke piring piring itu, namun beberapa senti belum ke piring piring itu niall menarik pinggangku, sehingga aku terguling ke badannya
dan jatuh tepat didadanya.

whatss?
aku melihat mukanya, dan dia melihat mukaku
ya ampuun ini sangat dekat ! aku bahkan merasakan detak jantungku hampir meledak

Apr 22, 2016

Short Story: Jealous

NIALL ZAYN LOVE STORY
SHORT STORY

Cerita Pendek
ONE DIRECTION

Alia Amira


            "Jealous"




*Alia pov*

   "hachhhhiiiihh"

   "Al, kamu sakit?" tanya Zayn disela sela kesibukan dengan laptopnya.

   "Tanyakan saja pada si Idiot itu!" jawabku sambil melirik Niall, Niall sedang bermain dengan handphone-nya
tak jauh dari kami, dia menoleh kearah aku dan Zayn.

   "Apa ? Aku? Bukan aku, itu salahmu sendiri" katanya
   "jelas jelas itu Haacchhiiih kau, Horan" jawabku

   "Apa kau bilang? Haccchhhhiiih, jangan salahkan aku, salahmu sendiri yang mau saja aku bohongi" katanya sambil meniru suara bersinku, menyebalkan!

   "Aku? Kau menelponku bilang sedang sendirian dirumah HACCHHIIHHH dan tak enak badan, hujan-hujanan aku kerumahmu dan ternyata kau malah asyik asyikan dengan PS-mu!" ucapku kesal padanya

   "itu bukan salahku"
   "jelas jelas itu salahmu!"
   "jangan menyalahkanku bocah dungu!" Niall berteriak keras kearahku, ohh.. Si Idiot ini memang ngajak perang denganku!

   "Kau manusia rakus menyebalkan! HACHHIHH"
   "masa bodoh! we we we dasar dungu! Bodoh!"
   "kau yang bodoh! Tukang makan!"
   "Apa yang kau katakan? Aku tidak mendengarnya, ucapkan sekali lagi"
   "Kau bodoh!HACCHIIHH Niall James Horan si bodoh tukang makan!"

   "Ohh, jadi kau benar benar ingin perang ya?! Rasakan ini!" Ucap Niall sambil melemparkan bantal sofa kearahku.

   "Hey!!!! Kau yang memulainya ya!" Aku melempar balik bantal tersebut kearah Niall.

Lalu kami saling melempar bantal sofa, Zayn, Louis dan Harry hanya memperhatikan ulah kami berdua sambil tersenyum.

   "Bisakah kalian diam dan duduk tenang?!" Ucap Louis.

   "Dia yang memulai duluan!" ucapku dan Niall berbarengan dan saling menunjuk.

   "Jangan HACCHIIHH mengikuti gayaku, bodoh!" kataku sambil melempar kembali bantal yang dia lempar.

   "Kau yang mengikutiku duluan! Dungu!"

Aku lelah dengan perang ini, aku kembali duduk disebelah Zayn dan dia duduk didekat tv, jarak kami saling berjauhan namun sangat terasa hawa perang dan ingin aku lempar semua bantal disofa ini kemukanya yang menyebalkan itu.

   "Nah seperti ini kan tenang, tidak kah kau lelah?" ucap zayn padaku.

   "tentu aku lelah, dasar kekanakan" bisikku pelan.

   "Masa bodoh! Haccchhiihhh" ucapnya sambil melotot kearahku
   "Apa? Aku tak bicara padamu! GR"
   "Siapa juga yang bicara denganmu, dungu!"

   "Arghh, sudahlah, kalian ini sepertinya harus dipisahkan" ucap Louis.

   "Zayn.." panggil Liam.
   "yaa.."
   "Bawa Alia keluar saja, sampai kekesalan mereka mereda, berisik sekali mereka disini"
   "okaaayy" Zayn menutup laptopnya.

   "Tidak tidak! Alia tidak boleh kemanapun?!" Ucap Niall

   "Apa lagi yell?" ucap Louis.

   "Dia tidak boleh kemanapun, tidak kah kau lihat dari tadi dia bersin bersin?" Ucap Niall

   "Aku tidak apa- apa tuh, memangnya apa pedulimu denganku?!" kataku kesal.

   "Ya! Aku tak peduli padamu terserah kamu mau kemana" Ucap Niall sambil pergi berjalan menuju dapur.

   "Aku benci padamu!" kataku lalu berjalan keluar dari rumah.

   "HEI DUNGU!!! AKU SUNGGUH SUNGGUH BENCI PADAMU!" teriak Niall dari dapur, arghh menyebalkan sekali si tukang makan itu!

***

Niall POV

Kemana perginya wanita menyebalkan itu? Dia berjalan keluar sendirian. Sudah tahu langit mulai gelap,
apa sih yang dipikirkan Alia?

   "Kamu kenapa? Gelisah seperti itu" Tanya Louis padaku.
   "Apa? Aku? Tidak ada"
 
   "Terlihat jelas diwajahmu itu, kau sedang mengkhawatirkan Alia kan"
   "haha, peduli apa aku sama dia! Biarkan saja wanita dungu itu pergi"
   "terserah kau Niall, kejar saja dia"
   "untuk apa, lebih baik dirumah dari pada mengejar si Idiot itu"

Sebenarnya aku khawatir, kemana perginya dia? Bagaimana jika ada perampok atau penculik, dan.. dia kan sakit, bagaimana kalau dia bersin bersin, dan demamnya makin tinggi lalu pingsan dijalan?

   "Kalau kau khawatir susul saja, mumpung masih belum begitu jauh" saran Zayn.
Betul juga sarannya, lebih baik aku susul dia sekarang. Oke

   "Aku keluar sebentar" kataku sambil memakai jaket beserta kapuco ku.

   "Kau mau menyusul Alia, akhirnya... benci pun menjadi cinta" ledek Louis

   "Ap.. Apa?! Tidak mungkin, aku hanya berjalan-jalan mencari... Al, maksutku, mencari makan malam.."

   "Jangan munafik Horan"

   "Whatever!" Ucapku sambil keluar dari rumah,

Aku tidak khawatir kok, aku hanya jalan-jalan disore hari sambil mencari makan malam, ya! Benar! Bukan mencari Alia, haha.

------

Kemana perginya wanita dungu itu! Shit! Hari sudah semakin sore dan aku tak menemukannya dimanapun!
Bagaimana bisa perumahan sekecil ini bisa membuatku pusing mencari cari sosok wanita bodoh itu.

Sambil minum sofdrink kaleng, aku mencari Alia, namun tidak ada tanda tanda kehadirannya, dimanapun
Ohhh... Alia, kamu dimana?!!! Apa dia ngambek? Aku mungkin harus minta maaf padanya, Aku sudah keterlaluan waktu itu saat dia sedang nge-date dengan Zayn, dan aku menelponnya pura-pura sakit, dan dia secepat kilat langsung menuju kamarku dengan keadaan basah kuyup karena hujan deras saat itu.

Tidak? tidak

Aku tidak cemburu, aku hanya memastikan, saat dia nge-date dengan laki laki lain apakah dia masih mempedulikanku, dan ternyata
hehe- Dia sangat peduli :)

Aku mencarinya disekitar danau, dan.. AHA! Akhirnya ketemu juga wanita dungu ini, dia sedang duduk dipinggir danau, dan sedang menikmati angin sore. Bodoh! Bisa masuk angin dia kalau seperti itu terus. Aku menghapirinya diam diam, dan menutup kedua matanya dari belakang.

   "Apaaan nih mmpphhhh" teriaknya.

Die memberontak dan tanganku digigit olehnya, "AAAAAAAARRRRRRRGGGGGGGGGHHHHHHHHH, Apa yang kau lakukan! Bodoh!" teriakku kesal padanya, sakit sekali gigitannya! Dasar gigi mermut menyebalkan.

   "Niall? Sedang apa kau disini?" tanya dia padaku, aku mengelus elus bekas gigitannya dan duduk disebelahnya.
   "Tak kah kau meminta maaf atas apa yang kau perbuat padaku?" kataku sambil menunjukan bekas gigitannya itu didepan mukanya.
   "Singkirkan tanganmu, aku masih kesal padamu!" ucapnya sambil berpura pura melihat kearah danau, tapi matanya melirik kearahku.

   "Kau memang tak tau sopan santun!" ucapku kesal.

Alia tak menjawab, dia malah asyik melihat kearah danau. Terpaan angin membuat rambut rambutnya terangkat dengan anggunnya.

   "Kamu sedang apa disini? Jangan bilang, kau sedang khawatir mencarikanku kan?"
Ucapnya, tepat sekali!
Apa dia bisa membaca pikiran orang?

   "Jangan keGRan ya! Aku hanya sedang.. berjalan jalan saja, mencari makan malam" ucapku bohong.

Alia melirik sinis kearahku.

   "Apa? Aku tidak berbohong kok"

   "Memangnya aku bisa dibodohi? Disini danau, tidak ada tempat makan Horan!"

Astaga! Aku lupa! Jarak danau dan tempat makan kan sangat jauh sekali, ah.. dia sungguh peka, dan itu menyebalkan.

   "Aaa..a.. ya aku hanya sedang mencari udara segar disini, dan kebetulan bertemu denganmu! Salah? Oke baiklah, kalau begitu akupergi" ucapku sambil berdiri dan pergi meninggalkannya.

Ahh, sebenarnya aku tidak ingin meninggalkannya sendiri, aku sangat khawatir padanya, semoga saja dia langsung mengejarku. YA SEMOGA!

Aku menoleh kearahnya, dia masih duduk disitu, dan sama sekali tidak mempedulikanku.

Menyebalkan sekali dia, kenapa wanita dungu itu tidak mengejarku.

What?! Kenapa aku, kenapa aku berharap dia mengejarku?
Ahh biarkan saja dia sendirian disitu, baguslah.

*Alia POV*

Ada apasih dengan Niall sekarang? Dia sudah berubah menjadi pemarah, dan aneh. Seperti kemarin, saat sedang hujan-hujan, dan dia tau aku sedang jalan dengan Zayn, dia malah menelponku tiba-tiba dan suaranya seperti seolah olah dia sedang sakit keras, lalu menyuruhku kerumahnya dalam 5 menit.

Dan bodohnya, aku langsung mempercayainya.

Zayn kutinggalkan begitu saja di tempat makan, aku sungguh tak enak hati padanya, tapi bagaimana lagi? Aku sangat khawatir dengan Niall, teman masa kecilku itu. Teman masa kecilku yang menyebalkan.

   "Kamu pakai ini, nanti masuk angin" Niall tiba tiba muncul dibelakangku dan memberikan jaketnya padaku.

   "Ohh, terimakasih, bukankah kau.."

   "Iya iya, ini aku akan pergi, tapi sebelumnya kau pakai dulu itu jaketku, aku tidak mau sakitmu tambah parah"
Ucapnya memotong pembicaraanku.

Aku memegang jaketnya dan tersenyum sendiri, ternyata dia masih mempedulikanku.

   "Ap, Apa? Kenapa kau senyum senyum seperti itu? Sama sekali tidak cantik, dasar bodoh" ledeknya.

   "Ya! Aku memang tak cantik, dan kau? Si tukang makan bodoh  dungu!"

   "Kau memang ngajak adu mulut denganku ya! SUDAHLAH, aku tak peduli lagi denganmu! Menyebalkan" Ucapnya lalu pergi meninggalkanku.

Uhh, apasih maunya dia? Kenapa sekarang dia sangat menyebalkan!
Lupakan saja deh, lagi pula hari sudah semakin gelap dan dingin, aku memakai jaket tersebut dan hendak pulang kerumah.

   "Ternyata kamu disini?" Tiba tiba Zayn muncul didepanku dengan membawa 2 gelas coffee ditangannya

   "Eh kau Zayn, iya aku disini, dan ini mau pulang"

   "Mau aku temani pulang?" Katanya sambil menyodorkan coffee itu padaku.

   "Ah tidak apa-apa aku bisa pulang sendiri kok" ucapku lalu mengambil coffee yang ia berikan.

   "Hari sudah gelap, tidak baik seorang gadis cantik sepertimu diluar sendirian.."

Katanya sambil tersenyum padaku, dia memang laki laki yang baik dan sopan, tidak seperti Niall yang menyebalkan! Dia selalu memanggilku dengan sebutan 'wanita dungu'! Itu sungguh sungguh perkataan yang menyakitkan telinga.

   "Sepertinya kau tak perlu repot repot Zayn, aku yang akan mengantarnya pulang"
Tiba tiba Niall muncul dari belakangku, dan langsung menggandeng tanganku, lalu menarikku menjauh dari Zayn.

   "Hah? Eh, Zayn.. bye.." ucapku pada zayn, Zayn hanya tersenyum dan pergi.

Aku menarik tanganku, melepaskan genggamannya.

   "Apa apaan sih?! Kenapa kau senang sekali muncul tiba tiba dan memaksa orang begitu saja!" ucapku kesal padanya.

   "Kau harusnya berterimakasih padaku! Bagaimana kalau Zayn tidak mengantarmu pulang, tapi malah melakukan hal yang tidak-tidak denganmu" kata Niall penuh curiga.

   "Zayn tidak seperti itu! Lagi pula tidak ada urusannya denganmu, apa pedulimu?"

   "Oke, fine. Memang aku bilang kalau aku 'Tak Peduli' lagi padamu. Jelas jelas itu bohong! Aku peduli padamu bodoh"

   "Ahh terserahlah! Kau memang menyebalkan Horan!" Ucapku agak membentak dan pergi, namun dia masih mengejarku.
 
   "Kau mulai berubah ya, semenjak kenal dengan Zayn!"

   "Aku tidak berubah, kau yang berubah! Tidak bisakah sikapmu lebih lembut dan sopan seperti Zayn?"

   "Ohh, jadi sekarang kau mau menyamakanku dengan si bodoh? Apa jangan-jangan.. kau jatuh cinta pada si Bodoh itu?"

   "Siapa si bodoh yang kau maksut? Zayn?!"

   "IYA, KAU JATUH CINTA KAN DENGANNYA!?"

   "Kalau ya kenapa? Hah?! Tak ada hubungannya denganmu!" Aku pergi meninggalkannya, ada apa sih dengannya? Jelas jelas aku hanya berteman dengan Zayn, kenapa dia berubah menjadi super menyebalkan seperti itu?

   "Tidak kah kau tau bagaimana rasanya cemburu?"

Aku mengentikan langkahku dan menoleh padanya, dia berdiri dan tertunduk lemas, lalu mengangkat kepalanya dan menatapku.

   "Aku terlalu munafik untuk bilang padamu, kalau aku tidak cemburu" Ucapnya lagi.

Aku ternganga mendengar ucapannya itu, aku mendekati Niall dan memegang tangannya.

   "Ya.. kau memang munafik Horan" Bisikku ditelinganya, lalu tersenyum dan dia ikut tersenyum, lalu kami tertawa bersama.

Yaa, bukan hanya kau saja yang munafik Niall James Horan, begitupun aku.. aku selalu menyembunyikan perasaan sukaku padamu, dan kau selalu menyembunyikan perasaan jealous-mu itu. Kau tahu? Kadang kita harus jujur mengungkapkan apa isi hati kita, atau kita akan terjebak dalam perasaan yang 'saling suka tapi tak tersampaikan'

Apr 9, 2016

Niall Love Story: Forever Yours

#Niall Short Story#


-

-

-


“Princess..”

 Aksen Irlandia terdengar sayup di telingaku yang masih setengah terjaga. Perlahan ku membuka kedua kelopak mataku, membiarkan berkas sinar matahari menerangi iris mata cokelat gelapku. Di sisiku, seorang pemuda pirang bermata sebiru samudera menyambutku dengan dekapan hangat. Aku bisa merasakan sepasang lengan kekarnya memelukku dengan protektif.


“Good morning, Nialler..”


“Morning sweetheart.”Sahut pemuda pirang tersebut lembut,

“Today is a big day for you, isn’t it? I will take care of you all day long.” Kamu hanya tersenyum tipis,

“You’re too hyperbolic. Aku sudah sering melewati hari-hari semacam ini,” tukasmu sederhana,“Puluhan kali, just for your information. This ain’t my first time.” Pemuda yang ku sapa Nialler tadi hanya mengangguk singkat

“You’re beautiful, and too strong for a little girl. That’s why I love you.” Sebuah kecupan singkat mendarat mulus pada keningku. Membuatku tertawa renyah.

“I love you too, my nialler”

Ya, aku---gadis yang beruntung bisa memiliki seorang Niall Horan di sisi tempat tidurku setiap hari ,rupanya tak seberuntung kelihatannya. Mata cokelat bersinarku memang bisa menyembunyikannya, begitu pula dengan bibir merah mudaku yang selalu merekahkan senyum. Jauh di dalam diriku, ada sebuah penyakit berbahaya yang mengancam hidupku. Aku terlahir dengan kelainan jantung, dan membuatku kerap melakukan operasi klep jantung setiap beberapa bulan sekali dan minum obat setiap harinya. Hari ini, adalah yang kesekian puluh kalinya aku menjalani operasi tersebut. Niall tahu akan hal itu, dan hal itu pula yang membuat pemuda Irlandia tersebut begitu mengagumiku sebagai tunangannya. Aku adalah gadis yang kuat, sangat sangat kuat. Niall mendaratkan satu lagi ciuman pada dahiku.

“C’mon get up from the bed. There’s some breakfast for you down stair, Alia.”

“Thank you, you’re the best.” Aku membawa Niall dalam pelukanku, sebelum akhirnya berdiri dan turun untuk sarapan.

Sepanjang hari dihabiskan oleh aku dan dia dengan duduk berdampingan di sofa dengan selimut, popcorn, soft drink dan setumpuk DVD. Siang telah berlalu dan sore kini menjelang, Niall memeluk tubuhku ,kekasihku yang telah mendampingi hidupku sejak dua tahun belakangan ini,dan menyandarkan dagunya pada bahuku, seolah tak akan pernah ingin dipisahkan.

“I love you so much. You’re like an ecstasy, and I’m overdose.” ucap Niall

Aku tersenyum dengan rona merah pada pipiku. Tetapi sebelum aku sempat membalas ucapan Niall, pintu apartemen menjeblak terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu. Sedetik kemudian, muncul sosok pemuda berambut cokelat gelap ikal, disusul dengan yang berambut hitam legam kemudian di belakangnya muncul lagi dua pemuda berambut cokelat kacang. Yes, they are Harry, Zayn, Liam and Louis..

“Hey massive lazy couple,” Harry datang dengan wajah ceria.

“Don’t you say that you guys spend all the day with a tons of DVD and cuddle up on couch..” Niall melemparnya dengan sebutir popcorn.

“Haha! Unfortunately, that’s pretty rite.” Harry menangkap popcorn yang dilempar Niall dengan mudah, kemudian memasukannya ke dalam mulutnya.

“By the way Al , how are you today? You will go to the hospital tonight?” tanya Harry

“Yeah we’re here to support you.” Liam menyambung kalimat Harry.

Aku tersenyum simpul, memandang pada empat sahabat terbaikku itu.

“Yeah it will be my.. twenty first time? Or twenty third, maybe? Hah, I don’t even count that anymore..” Kalian semua tertawa.

Tetapi jauh dalam hatiku, aku bertanya-tanya.. Kapan semua ini akan berakhir? Operasi setiap bulannya, minum obat agar rambut diepalaku tak berguguran. Berapa lama lagi aku akan hidup? Beberapa jam ke depan kita habiskan dengan memasak dan menonton The Dark Knight Rises, film favorit kita berenam. Hingga akhirnya malam menggantung di langit, aku harus bersiap-siap berkemas menuju rumah sakit untuk operasi. Orang tuaku dalam perjalanan ke sana, menemaniku melewati semuanya seperti biasa. Harry bangkit berdiri dari sofa.

“Well Al , we have to go to do an interview. And Niall, join us as soon as possible. It won’t take a long time.” Ujarnya padaku dan Niall.

“We will visit you tomorrow with Perrie, El and Dani,” Zayn mengambil jaketnya, disusul dengan yang lain,

“Good luck babe!” Kemudian Louis memelukku

“Yeah, we love you Alia! Good luck. See you tomorrow.” Keempat sahabat lelaki itupun bergantian mengucap salam, memelukku dan berjanji akan datang menjengukku besok. Kemudian mereka meninggalkan apartemenku dan aku bersiap-siap menuju rumah sakit.

Hujan turun membasahi London pada malam itu. Aku duduk nyaman di dalam mobil sementara Niall memegang kemudi. Kalian berdua terdiam, menunggu satu sama lain untuk mengucap kata.

“Princess..” panggil Niall

“Yes, babe?”

“Are you alright?” Aku hanya tertawa kecil,

“Yes of course. Ini hanya operasi klep jantung biasa, Nialler… Bukan operasi besar, apalagi pencangkokan jantung..”

“Kapan kira-kira kamu akan mendapatkan donor?” Raut wajahku berubah muram,

“I don’t know.. Maybe someday.” Jawabku singkat.

Bertahun-tahun aku menunggu untuk mendapatkan donor, tetapi sampai sekarang hasilnya masih nihil. Hanya itu satu-satunya cara untuk memulihkanku. Selama aku belum mendapat donor untuk operasi cangkok jantung, aku tak akan pernah sembuh.

“Yeah, Princess.. I believe one day you’ll be healthy as everyone else. I will always be by your side. I won’t go anywhere. I promise, Princess..” Niall berkata lirih dengan senyum khasnya. Senyum yang selalu membuatku tergila-gila.

Bentley yang dikemudikan Niall berhenti pada lobby rumah sakit yang sangat familiar denganku. Aku melihat kedua orang tuaku berdiri di dekat meja front office, menunggu kehadiranku.

“I gotta go for a while to do a short interview.” Ujar Niall sembari menghela nafas. Aku mengangkat bahu,

“Okay, no problem.” Niall menggenggam tanganku, kemudian membawaku pada pelukannya. Ia tahu kalau aku sangat suka dipeluk, dan ia selalu mencoba melakukannya sesering mungkin. Bagiku, tak ada tempat yang lebih nyaman dibanding berada dalam pelukan Irish leprechaun-ku.

“You will survive, Princess.. You will life until you get very very old. We will make a good family..” Setengah heran, tetapi aku hanya mendekap Niall-ku lebih erat lagi,

“Yes babe, I will, we will. I love you.” Nafas Niall berhembus hangat di tengkukku,

“I have a surprise for you. But you have to do your surgery first,” suara kekasih pirangku berubah menjadi sebuah bisikan, “Aku akan menjadi orang pertama yang kau temui ketika kau bangun besok, as usual Princess.. And I will bring the surprise.” Aku menjadi penasaran, tetapi rupanya aku menikmati rasa penasaran tersebut sehingga kau enggaan mendesak Niall untuk membeberkan rencananya,

“Well, Prince.. Promise me?”

“I promise babe.” Kemudian Niall mendekatkan wajahnya pada wajahku, menciumku tepat di bibir untuk beberapa saat.

“Well, masuklah ke sana. Aku akan menyusulmu nanti, Princess..” Aku mengangguk, kemudian mengambil tasku dan membuka pintu mobil.

“Princess..” Aku berbalik,

“Yes, Nialler?”

“I really love you.” ucap Niall singkat

-

-

-


***Niall Horan***

Aku mengemudikan Bentleyku dengan kecepatan sedang. Hujan belum kunjung reda, namun kabut mulai menipis. Aku kini berada dalam perjalanan menuju rumah sakit setelah selesai dengan beberapa interview mendadak dari sebuah stasiun radio. Kota London mulai sepi, mengingat ini hampir tengah malam. Operasi tunanganku akan berlangsung kira-kira satu jam dari sekarang dan aku telah memperkirakan akan datang tepat waktu. Tanganku merogoh saku jaket. Aku menggenggam kotak kecil berbahan beludru yang telahku persiapkan jauh-jauh hari. Besok adalah saatnya. Aku mencintainya sebegitu dalam, walaupun aku tahu kalau kekasihku itu sangat ringkih dan lemah. Tetapi hal itulah yang membuatku jatuh cinta. Bagaimana bisa aku melupakan sepasang mata bersinar yang selalu memancarkan kekuatan besar dibalik penyakit berbahaya yang membayanginya?I  loves her, so damn much.. Akupun meraih BlackBerryku, membuka menu message dan mengetik pesan singkat. Ketika mataku sedang terpaku pada layar telepon genggam, tak sadar mobilku melaju menerobos lampu merah. “Shit, shit!” Dan dalam tempo waktu bersamaan, sebuah truk besar datang dari arah samping. Aku menginjak pedal rem sedalam-dalamnya, namun naas sekali segalanya telah terlambat. Bunyi klakson truk dan Bentley-ku membahana, kemudian sepersekian detik selanjutnya, bunyi hantaman memekakkan telinga antara dua buah material sama keras membelah malam dan hujan. Bentley-ku terhempas begitu saja sejauh beberapa puluh meter. Bunyi tubrukan antara logam dan aspal yang menyayat hati berkali-kali terdengar sebelum akhirnya mobilku teronggok mengerikan di pinggir jalan. Teriakan beberapa orang terdengarditelingaku, meminta pertolongan kepada siapapun.

“Hey!! Is he still alive?”

“He’s still breathing!”

“Hold on, Kid! Please hold on!”

“Damn! His body stuck between the dashboard and seat!”

“Holy shit, he’s bleeding! So freakin much!”

Selanjutnya bunyi sirene ambulans menyusul. Orang-orang segera mengangkat tubuh tak berdayaku setelah menariknya paksa dari jepitan dashboard, air bag dan jok mobil.Lalu detik berikutnya, bau obat-obatan di dalam ambulans adalah hal terakhir yang aku rasakan.

‘Good luck for your surgery. I’ll be there as soon as possible. I love you forever and always princess xx’ His message was still waiting to be sent on Niall' BlackBerry
***

“Mom, where’s Niall? He said he would be here before my surgery.” Aku bertanya pada ibuku dengan setengah kesal,

“I was trying to call him but there’s no answer.” Ibuku hanya mengangkat bahu,

“I don’t know. Maybe he’s on his way, Sweetie..” Seorang dokter dan beberapa suster memasuki kamar rawatku. Ini berarti operasimu akan segera dimulai.

“No, no.. Can you delay my surgery? Just for a few minutes.. I’m still waiting for someone.” Tukasku pada tim dokter yang akan mengoperasiku. Mereka hanya mengangguk, dan kemudian meninggalkan kamarku.

“Damn, Nialler! Where are you?” aku mengumpat pada layar telepon genggamku saat operator telepon yang menjawab panggilanku, not your Nialler. Pintu kamarku dibuka lagi, kali ini ayahku yang muncul,

“Hey, I wanna talk to you about something.” Ujarnya kepada ibu.

Kemudian tanpa berkata apa-apa mereka keluar kamar, meninggalkanku sendirian yang masih sibuk dengan rasa kesalku.

-

-
***

“Niall kecelakaan…” Wanita paruh baya tersebut terperanjat mendengar pernyataan suaminya. Matanya membesar,

“Then?”

 “A truck hit his car. They can’t help him.. He’s dead.” Wanita tersebut tak merespon, di wajahnya hanya tergambar keterkejutan yang amat sangat, seperti langit runtuh. Tubuhnya merosot, terduduk pada kursi di ruang tunggu. Niall? Bagaimana bisa?

“Dia meninggal saat perjalanan ke rumah sakit,” pria tadi melanjutkan ucapannya, “And you know what? Nurses in the ambulance said that..” nadanya berubah, lirih sekali, “Niall’s last word was.. ‘If he was dead, gave his heart to Alia. He loved her so much.”

Ada hening yang sangat panjang, sebelum wanita tersebut pecah dalam tangis

“You must be kidding me! How could… Oh my God, Niall! I can’t believe it!” ucap Ibu

“Yeah, yeah.. Me too. He’s too young, talented, and.. He loves our daughter, so does she..” ujar sang pria sembari memeluk istrinya. Masih dalam tangisan memilukan, wanita tersebut bertanya,

“Lalu, bagaimana?” “Orang tua Niall tahu tentang hal ini. Mereka dalam perjalanan dari Mullingar menuju London. Dan mereka setuju untuk memberikan jantung Niall pada Alia. You know, his parents love Alia so much.. Niall’s mother crying so hard.. Oh my God..” terang pria tersebut, berusaha menyembunyikan dukanya,

“Niall ada di rumah sakit ini, jantungnya telah diambil dan golongan darahnya cocok. Tim dokter pencangkokan jantung dalam perjalanan ke sini. Kondisi Alia dinyatakan prima untuk menjalani operasi besar ini.” Wanita tersebut hanya diam, menangis pilu. Tak membayangkan reaksi anaknya jika tahu tentang hal ini. Semuanya akan menjadi sangat sulit. Kemudian, derap langkah terburu-buru terdengar. Zayn, Harry, Liam dan Louis tergopoh-gopoh menghampiri pasangan paruh baya tersebut.

“Is Niall.. Is Niall…” Louis bertanya panik, tak ada lagi ekspresi jenaka pada wajahnya. Hanya kengerian dan ketakutan yang amat sangat, sementara sang pria baya hanya mengangguk dan memeluk pemuda bermata cokelat tersebut. Detik berikutnya, empat pria muda tersebut jatuh dalam tangis. Tangis yang paling pilu semenjak mereka tergabung dalam sebuah keluarga
***

-

-

-
“They can’t wait anymore..” Aku hanya menatap kesal pada telepon genggamku, kemudian gantian memandang ayah.


“Well, well.. Let say Niall got a massive discount in Nandos and now he’s spending his time there. Very funny.” Ayah hanya menatapku pilu.

“Okay, love? Good luck. I love you.” Aku membaca kekhawatiran dan kesedihan mendalam di mata ayahku,

“Oh c’mon dad, just a little surgery. I’m not the first-timer.. Where’s mom, by the way?”

“Yeah not a huge surgery..” ayah berusaha keras menutupinya,

“Your mom is talking with the doctor.”

“Well done, well done..” Suara tim dokter berbisik di dalam ruangan operasi. Operasi beberapa belas jam itu berhasil dilakukan, yah operasi biasa bukan pencakokan jantung, dan besok aku akan bertemu dengan Niall. Ya! Itu pasti! Dia sudah berjanji akan memberikan surprise padaku.


-------Four days later.. --------

“Hey! You’re finally awake!” Aku merasa begitu lelah, tubuhku kaku, tetapi aku tak pernah merasa sesehat ini sebelumnya. Suara husky Zayn menyadarkanku dengan cepat.

“Hello Zayn..” ujarku lirih, “Where’s Niall? Where’s my mom and dad? Where’s the other lads?” Zayn menggigit bibirnya kebiasaannya ketika ia panik dan nervous,

“Uh, emm.. The other lads are going to get their brunch. Your parents are talking to the doctor.”

“And Niall? Where’s that Irish bastard?” Kini Zayn mengacak rambutnya, makin panik,

“Uh, Niall.. He went to.. Mullingar! Yeah, he went to Mullingar yesterday..”

“WHAT? MULLINGAR? He promised me that he would be the first person I saw when I opened my eyes..” dan memberiku kejutan, tentu saja.

“Err.. I don’t know.. Really.” Tukas Zayn cepat, “Are you feeling great now?” Aku mengacuhkan Zayn dan meraih telepon genggamku untuk menghubungi Niall, tetapi ketika aku melihat tanggal dan hari yang tercantum, aku terperangah.

“Zayn! Today is Sunday!” “Yeah rite. Why?”

“God! I supposed to wake up at Thursday! I slept for 4 days! Something’s wrong here!” Zayn makin panik,

“Err.. Why did you ask me? I don’t know anything babe..” Kemudian pintu kamarku dibuka dan tiga sosok pemuda serta tiga perempuan menghambur ke arahku, menghujaniku dengan pelukan. All the rest of the lads are here, except your lovely Nialler..

“Hello El, Perrie, Dani, Liam, Louis, Hazza..”

“Hi Alia! How are you?” Eleanor mengusap rambutku dengan senyum.

“I’m feeling so damn great and healthy..” jawabku pendek,

“Guys, where’s Niall? He went back to Mullingar? Is he kidding me?” Pertanyaanku dijawab dengan keheningan.

“Why did he left me and break his promise? He supposed to be here when I woke up! He said he had a surprise for me!” kalimatku berurut panjang, mengabsen kekecewaanku pada pria pirang yang ku cintai. Tak ada jawaban, hanya Danielle dan Eleanor yang keluar dari kamar tanpa permisi. Harry berdeham,

“Err.. Ehm, Al.. Niall was..” ucap Harry

“Sweetie?” Ucapan Harry dipotong oleh suara ibu dan ayah yang tiba-tiba memasuki kamarku.

“Tell me the truth.. Where’s Niall?” kekecewaan dan kekhawatiranku tak bisa disembunyikan,

“Mom, Dad.. Where’s Niall?” Ada jeda panjang yang diisi oleh keheningan. Ibumu mulai terisak. Aku mencium ada sesuatu yang tidak beres,

“Mom, why did I sleep for 4 days? It supposed to be only a day..”

“Alia.. listen to us.” Akhirnya ayah angkat bicara.

“Yeah I’m currently listening to you.”

“Niall isn’t here.” ucap Ayah

“I know, he’s in Mullingar. Isn’t he?” Ayah mengangguk,

“Yeah..” Semua tertunduk, kini giliran Perrie yang keluar kamar, menahan tangis. Aku heran, jelas sekali ada sesuatu yang salah di sini.

“Damn, what happened? Why all the girls cried?” tukasku. Kemudian ibu menghampiriku, memelukku erat sembari ayah memberikan penjelasan.

“His body is in Mullingar.. Lay down forever there..” Semakin tak mengerti, aku mulai histeris,

“WHAT?!”

“When Niall drove his car to back to this hospital, he had a car accident..” Aku terperanjat, merasa duniaku hancur saat itu juga.

“Then…” kalimatnya tertahan di tenggorokan,

“He’s dead..” Lagi, aku hanya terdiam. Tubuhku mendadak kaku, dan buliran-buliran air mata membasahi pipiku. Pikiranku kosong, seperti dirampas tiba-tiba. Aku tak bisa berpikir, berbicara, atau bahkan bergerak. Aku pasti hanya bermimpi.. Mungkin ini adalah salah satu dari rencana Niall untuk mengejutkanku.. Ya, pasti begitu.. Niall tak mungkin pergi meninggalkanku.. Apalagi untuk selamanya..

“And the nurses in the ambulance said..” ayah menarik nafas panjang, suaranya hanya menjadi sekilas bisikan,

“Niall last word was.. Commanded to gave you his heart..” Air mataku mengalir deras, sangat deras. Aku merasa seperti ada palu besar yang menghantamku tepat di dada. Sakit, sangat sangat sakit.

“You lie!” aku mulai menangis,

“Niall said.. He would never leave me.. He would always be with me..” kalimatmu mengalir pilu, “And you know? NIALL HORAN NEVER BREAKS HIS PROMISE!”

Ibu memelukku erat, begitu juga dengan Zayn, Liam, Harry dan Louis. Saat itu juga aku sadar kalau mereka tak berbohong. Louis tak bisa pura-pura menangis, begitu pula Zayn, Harry dan Liam. Tetapi kini aku melihat mereka pun menitikan air mata pilu. Aku berontak, berusaha menangis sejadi-jadinya dan memukul-mukul dadaku, berharap aku akan jatuh pingsan seperti biasanya jika kau merasa terlalu marah atau sedih. Tetapi semuanya nihil, jantung Niall dalam diriku bekerja terlalu baik.

“I DON’T NEED HIS HEART!! ALL I NEED IS HIM!” teriakku

“We know.. We know, Al.. We need him too..” suara Liam terdengar pecah,

“But that already happened..”

“BULLSHIT!! HE SAID HE WOULD BE HERE AND GAVE ME A SURPRISE!” aku berteriak, masih berharap kau akan jatuh pingsan dan terbangun dengan Niall berada di sisiku dengan lengannya yang memelukku erat seperti biasanya,

“I DON’T NEED A SURPRISE LIKE THIS HORAN!” aku tak pernah membayangkan akan kehilangan Nialler-ku, tak pernah sedetikpun. Yang aku takutkan selama ini adalah aku yang akan meninggalkannya karena penyakitku, bukan sebaliknya. Kini aku tak akan pernah lagi mendengar sebutan ‘Princess’ yang sangat aku sukai, atau menghabiskan waktu dengan bersandar pada dada bidangnya sembari bercerita tentang hari-hari yang kalian lewati.

“Nialler.. You’re a liar.. WHY DID YOU LEAVE ME? YOU’RE A FUCKIN BASTARD! ”

Aku begitu mencintai pemuda pirang Irlandia-ku. Aku menyukai caranya tertawa, menyukai kejutan-kejutan kecilnya, menyukai caranya menciumku atau caranya bermain dengan rambutku. Dia selalu bilang bahwa aku begitu wangi, itu sebabnya ia selalu memelukku. Aku masih ingat saat terakhir aku bertemu dengan Niall-ku, bagaimana ia memelukku, bagaimana ia mengecupku, bagaimana ia memanggilku princess, dan bagaimana caranya berkata kalau dia mencintaiku. Ayah kemudian menghampiriku, dengan matanya yang mulai berkaca-kaca, ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah.

“They found this in Niall’s pocket..” ayah meletakannya di telapak tanganku yang gemetar hebat,

“I guess.. That’s the surprise.. I’m so sorry sweetie..” Aku menggenggamnya dan kemudian dengan tanganmu yang lemah dan gemetar aku membukanya.

Adalah sebuah cincin perak dengan berlian berwarna kebiru-biruan yang berkilau indah---mengingatkanku pada warna mata Niall-ku, mata yang membuatku tak pernah bisa melupakannya sejak pertama bertemu. Di dalamnya terukir halus sebuah frasa sederhana---membuat tangisku semakin pecah.Nialler you're my super hero ,,thank you for your heart ,,I will safe it ,, Love you always Niall

THE END ---------


*maaf kalo bhs inggrisnya ada yang ngaco, maklum orang jawa bukan orang sono :D*

Apr 8, 2016

Short Story: Who?

  

 "mbak mau pesan apa?"
tanya waiter itu dengan muka jengkel ke mejaku.

   "maaf mbak, saya masih nunggu seseorang"jawabku padanya,

sudah tiga kali aku menjawab dengan jawaban yang sama pada waiter ini.
Mungkin dia jengkel karena aku tak kunjung memesan makanan, akhirnya dia pergi lagi menginggalkanku.

Hampir semua orang yang ada direstoran mengamatiku, memandangku dengan muka kasihan.
Tenang saja.. aku sedang tak menunggu pacar ataupun gebetan

Tapi menunggu temanku, aku melihat pintu masuk, beberapa anak remaja datang, 2 cewek dengan celana pendek yang sama, dengan atasan jaket tebal berbulu yang sebagian menutup leher dan pergelangan tangan, namun dibagian dada dan lengan atas terlihat jelas tubuh putih mereka. Aduhh.. pakaian model apa itu? gak menutup aurat sama sekali.

Dan dibelakangnya diikuti 3 cowok dengan celana chino dan atasan kemeja, ada satu cowok yang tak asing bagiku,
sepertinya.. aku mengenalinya. dia memakai hoodie hijau tua, yang bentuk jaketnya sama seperti punyaku.

Saat rombongan remaja itu melewati mejaku, dia melihatku dan aku melihatnya, dia duduk dimeja yang tak begitu jauh dariku, saat dimeja pun dia masih melihatku, padahal cewek memakai hotpants disebelahnya daritadi ngajak ngomong dia mulu, lalu meraba raba badan cowo itu.

Aku kira.. itu pasti pacarnya

Ahh daripada memikirkan orang lain, aku memikirkan diriku sendiri. Daritadi orang yang kutunggu
tak kunjung datang. Mau tak mau aku memesan makanan duluan. Aku segera memanggil waiter dan memesan beberapa french fries

Tak lama kemudian beberapa remaja itu mulai makan makan, ngobrol bercanda tawa, foto foto.. yah mereka berisik sekali, namun cuma cowo itu saja yang nampak diam dan beberapa kali melihat kearahku. Yaa bukannya GR sih..
tapi emang kenyataannya begitu.

Akhirnya bebeerapa remaja itu membayar makanan mereka dan pergi keluar restoran, begitupun aku. Aku mengikuti mereka sampai diparkiran, tiba tiba hp ku berdering

   "hallo"
   "sorry al sorry, gue gak bisa kesana"
   "kenapa lo ga dateng?"
   "gue ada acara mendadak ini, sorry ya"
   "yaudah gapapa ini juga gue mau pulang"
   "lo naik apa?"
   "paling grabcar"
   "gak usah, nanti gue suruh temen gue buat jemput lo"
   "temen lo? udah ga us.."
   "udah ya gue buru buru bye"
   "tapi, tung-"


tut tut tut

Telepon langsung diputus sama dia, kampret.. kalo kaya gini mau gak mau aku musti nunggu temennya itu

Aku berjalan ke taman dipinggir parkiran. Sambil melihat beberapa remaja itu masih mengobrol diatas motor, dan cowok itu ngobrol mesra dengan cewek memakai hotpants itu, ahh mesra banget mereka, cowok itu mengecup kening si cewek dan ngobrol mesra lagi, lalu menoleh kearahku.

Tau kalo aku sedari tadi ngeliatin dia, aku langsung pura pura mengecek hp ku.
duhh malu banget ih, ketauan kan kalo daritadi aku ngeliatin dia.. sebenernya siapa sih cowo ini kayaknya aku kenal?

Lalu beberapa remaja itu pergi dengan motor mereka masing masing, namun anehnya cewe itu gak boncengan sama si cowok, tapi sama cowo lain. Dan kini cowok itu nyamperin aku dengan scorpionya.

   "yuk gue anterin" kata dia sambil melepas helmnya.
   "lo temennya-"
   "iya, ayok cepetan ah"
belum selesai aku ngomong dia langsung mengajakku.

Aku kira cowok ini temennya yang jemput aku, tanpa pikir panjang aku langsung naik keatas motornya.
Lalu jalan keluar dari restoran itu.

Selama diatas motor sama dia aku gak berani ngobrol sama dia, dia juga masih aja ngeliatin aku dari kaca spion.
Karena saking keponya, aku memberanikan nanyain ke dia.

   "apa.. gue kenal sama lo?" tanyaku
   "menrut lo?" dia malah nanya balik
   "lo kenal sama gue?" tanyaku lagi
   "enggak"

Jawaban singkat, padat dan dingin. Ah males gue ngomong ama cowok kayak gini, udah cuek sok ganteng pula, yaa emang lumayan ganteng sih.. mungkin dia jaga jarak sama gue, karena dia kan udah punya pacar, cewek yang pake hotpants itu mungkin....

   "tapi gue kenal lo di twitter" kata dia
   "twitter? kita pernah mentionan?"
   "enggak"
   "terus?"
   "gue suka liatin status2 lo di twitter"

 

   "lo.. stalking gue?"

dia langsung menoleh kearahku, dan jarak antar muka kita makin dekat. upss, aku langsung duduk menjauh dari dia, lalu motor kehilangan keseimbangannya hampir menabrak mobil dipinggir jalan, secara reflek tanganku memeluk perutnya erat, dan motor berhasil dia kendalikan lagi.

Huftt untungnya, aku kira akan menabrak mobil itu.

   "e.. maaf-" kata dia pelan

Aku langsung melepas tanganku dari perutnya, dan duduk menjauh dari punggungnya.

   "maaf maaf, tadi gak sengaja, sorry" kataku

Dia menoleh lagi kearahku.

   "bukan itu, maksud gue maaf udah stalking twitter lo" kata dia

   "hah? ng.. ya gapapa kok"
   "dan lo, gapapa kok pegangan ke gue, nanti jatoh loh"
   "eng.. enggak ah gak enak gue"
   "gak enak sama siapa?"
   "sama pacar lo"
   "pacar?"


dia berpikir sejenak

   "ohh, cewek yang tadi direstoran yah?"
   "iya.."
   "itu bukan pacar gue"
   "tapi kok mesra banget?"
   "itu mantan gue"


glek! mampus gue malu banget! nanyain orang lain kayak gitu. duhhh shit!

tiba tiba hpku berdering, aku mengangkatnya.

   "halo al lo dimana ?!"
   "gue dijalan ini" kataku
   "lo naik angkot?!"
   "enggak, gue sama temen lo kok"
   "ngaco! dari tadi temen gue nungguin lo didepan restoran ini! lo malah udah balik! sue lo"
   "ih beneran gue udah ama temen l-"
   "yaudah yaudah tar gue suruh temen gue pulang aja bye"
   "eh tung-"

tut tut tut

   "kebiasaan ih!" dumelku kesal.

aku langsung menutup hp ku dan menaruhnya disaku... kalo misalkan temennya dia sekarang lagi direstoran buat jemput gue... terus ini gue lagi dijalan sama siapa dong?

   "kenapa al?" tanya dia sambil menoleh kearahku lagi. Dia tau nama gue? apa.. twitter?

aku melihatnya dengan muka bingung

   "sebenernya lo siapa sih?!"
   "lo bukan temennya temen gue yang mau jemput gue kan?! lo siapa?"

belum dia menjawab pertanyaanku, dia langsung membawa motor dengan kecepatan kilat! menyelip beberapa mobil motor dan truk dengan cepat seperti pembalap, mau tak mau aku memegang perutnya.

   "stop! stop! apa apaan sih! berhenti! Lo mau bawa gue kemana?!!"

berkali kali aku teriak seperti itu, namun tetap saja dia tak menghiraukan aku.

saat ia membawa motor dengan kecepatan kilat ,kami bertemu beberapa anak remaja yang tadi ada direstoran menggunakan motor yang mereka bawa,
mereka mengejar kami dan berhasil menghentikan motor kami.

akhirnya motor berhenti dipinggir jalan, aku dan dia turun dari motor,beberapa remaja itu juga turun dari motor saling bertanya dan cewek yang memakai hotpants atau mantannya si cowok itu turun dari motor dan dateng nyamperin aku.

   "siapa lo?! berani banget boncengan sama cowo gue?!!" bentak dia padaku.

Aku bingung tak menjawab pertanyaannya. Dia memperhatikan penampilanku dari bawah sampai atas.
   "lo cewek jones yang sendirian direstoran tadi kan?!"

Beberapa remaja tadi menganguk dan saling membisikan sesuatu ketemannya, pasti mereka membicarakanku tadi direstoran. Dan memanggilku dengan sebutan menyakitkan itu. ckck

   "jawab! lo ngapain boncengan sama cowo gue!lo siapanya?!"

Aku melihat ke cowok tersebut, dan dia juga melihat kearahku. Lalu aku kembali menatap ke cewek itu.

   "gue gak tau kenapa gue boncengan sama cowok lo"
aku melihat lagi kearah cowo tersebut kini dia berjalan kearah kami berdua

   "Bahkan gue gak tau namanya siapa!" kataku sambil menunjuk kearah cowok tersebut.

   "Bohong! mana mungkin lo gak kenal sama cowok gue kalo gak boncengan" bentaknya sambil nunjuk nunjuk kemuka aku.
   "kenapa gak lo tanya aja sama dia?!"
   "ah kebanyakan bacot lo!"



Dia hendak melayangkan tangannya kearah pipiku, namun ditangkis oleh cowo tersebut.

  "cukup nad!" kata cowok itu.

  "bener kata alia, dia gak kenal sama gue!" cowok itu mendekat kearahku.
  "jadi lo tau nama cewek ini?! oh pantes aja direstoran tadi lo liatin dia terus"
  "...." cowok itu diam tak menjawab.
  "sejak kapan lo kenal sama cewe ini?!"
  "baru tadi gue kenal sama dia, tapi gue udah tau dia dari dulu"
  "maksud lo apasih?! gue gak ngerti sama apa yang lo omongin!"
  "bukan urusan lo! lagian lo bukan siapa siapa gue"
  "tapi gue sayang sama lo!"
kata cewek itu sambil memegang tangan si cowok.
  "kita udah putus!"

aku bener bener bingung sama kejadian ini, tanpa permisi aku langsung pergi meninggalkan mereka.

   "al tunggu al!"

cowok itu datang menghampiri aku, dan memegang tanganku.

   "ih apaan si! sebenernya lo tuh siapa?!"

cowok itu merunduk, melepas tanganku dan

   "sebenernya gue..."


















*
*
*

Dan brakkk, tiang penyangga selang infus gue jatoh, akhirnya gue bangun dari tempat tidur, pas gue liat seisi kamar gue kok beda, ternyata gue ada dirumah sakit dengan
tangan penuh perban diinfus. Ohh iya, gue kan kena dbd, dan tadi.. berati mimpi yak?!
wkwkwk
mimpi kalo lagi sakit tuh emang aneh aneh deh, beneran semalem gue mimpi kaya gitu persis.

ngeekkk... pintu kebuka, ternyata nyokap sama ade gue dateng bawa makanan.. duh gue pengen tidur lagi, ngelanjutin mimpi itu, penasaran gue sama kelanjutannya wkwkwk.


Apr 9, 2014

Short Story: Timeline



Semua yang berawal dari pertemuan, akan berujung pada perpisahan, entah itu
pertemanan, keluarga, ataupun cinta. Semua orang yang akan menjalin hubungan pasti
akan berpisah suatu hari nanti.

Seperti kisah ini, sosok yang aku kenal sebagai teman curhat, sebagai keluarga, dan
juga sebagai seseorang yang aku cintai. Dia hanya satu orang, tapi keistimewaannya
membuatku merasa kalau dia lebih dari sekedar teman, lebih dari kebersamaan keluarga
dan lebih dari cinta pada seorang kekasih.


Selasa, 1 Feb 2011

Hujan rintik membasahi kota Jakarta di sore hari, aku berada diruang kelas bersama teman temanku
untuk mengerjakan kerja kelompok bersama. Karena tugasku sudah selesai, aku duduk
didekat pintu melihat rintikan hujan, sedangkan beberapa temanku yang lain masih mengerjakan
tugas.

Aku bersandar sambil melamun, melihat satu persatu rintikan hujan yang turun dari genting
dan dedaunan, tanpa sadar aku menghitung jumlah air yang jatuh

   "Udah selesai al?" tanya salah satu temanku, datang menghampiriku.
   "i,iya" jawabku
   "gak pulang?" tanya dia lagi

Aku melihat kearah rintikan hujan, sambil memasang wajah muram.

   "nunggu ujan reda ya?" tanya dia lalu duduk disebelahku.

Deg,
stop jangan duduk disebelahku.

   "iya, mau ke perempatan tapi masih gerimis gini" kataku sambil memandang langit
   "emang gak bawa jaket?" tanya dia
Aku menggeleng.

Dia mengambil tasnya lalu mengeluarkan jaket tebal berwarna biru dongker, lalu
meletakkannya dipangkuanku.

   "pake aja al" katanya sambil tersenyum ramah
   "enggak ah kagak"
   "udah, gue gak papa kali, gue gak gampang sakit kok"
   "gak gampang sakit gimana? waktu itu lo keujanan dikit aja langsung demam"
   "hah kapan?"
   "minggu lalu, masa lo lupa"

Dia mencoba mengingat ingat, lalu tersenyum

   "he he" ucapnya pelan sambil menggaruk garuk kepalanya.

Aku segera berdiri dan menaruh jaket tersebut di kepalanya.

   "gue duluan ya" kataku, sambil berjalan kearah hujan tersebut.

   "AL!" teriaknya, aku berhenti ditengah hujan dan menoleh kearahnya

Jaket tersebut dilebarkan diatas kepalanya, lalu dia menghampiriku dan mendekatiku untuk melebarkan jaket tersebut dikepalaku.

Deg,
Ya Tuhan ini sangat dekat.

   "kita pake bareng aja ya" katanya sambil mencoba merangkulku agar jaket tersebut muat
dipakai untuk berdua.
   "enggak enggak usah, lo aja" ucapku terbata bata
   "gak usah ngeyel deh al".

Akhirnya kita berdua jalan bersama menuju perempatan, dengan rangkulan hangatnya dipundakku
sambil memegang jaket untuk menutupi kepalaku dari rintikan hujan.
Dibawah langit mendung ini, aku sangat senang walaupun wajahku tidak menunjukkannya.
Jantungku sangat berdebar debar meskipun sikapku tak menunjukkannya.

Senin, 16 Juli 2012

Aku berangkat menuju kota Semarang, tempat dimana aku akan melanjutkan SMA, aku berpisah dengannya, teman sekelasku.. Tanpa ucapan selamat tinggal dan
tanpa kata kata perpisahan, aku kira sekarang dia sudah melupakanku, jadi untuk apa
aku menemuinya?

Hari demi hari yang kujalani telah berlalu, aku mempunyai banyak aktifitas,
terkadang jarak ini membuatku bertanya tanya, apakah ia..

masih mengingatku?


Sabtu, 7 September 2013


Setelah bertahun tahun aku berpisah dengannya, aku sempat kehilangan kontak dengannya
namun ini semua tak menghalangi takdirku dengannya, kami kembali berkomunikasi,
curhat ataupun berantem walau hanya sebatas text messenger.

Awalnya aku sangat senang bisa berhubungan lagi dengannya walaupun dalam
jarak ratusan kilometer seperti ini
Namun tak lama kemudian, kami saling memaki.

Jumat, 31 Januari 2014

Mungkin dengan kehadiranku dia merasa terganggu,
dan dia memintaku untuk merusak barang pemberiannya,
sebuah headset yang kusimpan manis didalam kotak yang penuh dengan flowercrown.
Aku sungguh tak mengerti apa maksud dari ucapannya tersebut.
Semua hal yang aku pertahankan untuk hubungan ini berakhir dengan
kata kata kasar yang ia ucapkan padaku..

Dia bilang, aku menyakitinya.. dan dia menyuruhku untuk tidak mengganggunya lagi.

Tuhan,
cobaan apa yang kau berikan padaku?

Jika benar aku menyakitinya, tunjukan rasa sakit yang lebih padaku. Jika memang aku wanita
murahan, mengapa sampai saat ini aku tidak memliki seorang kekasih? Dan Jika memang
ia tak mau menghubungiku lagi..

tolong, buat aku melupakannya.

Dan akhirnya, kami memutuskan untuk saling berpisah.

Sabtu, 5 April 2014



Hujan ini kembali mengingatkanku padanya, bagaimana mungkin aku bisa melupakannya
secepat itu? Jika hubungan yang kita bangun bersama ini bertahan selama bertahun-tahun
lamanya.

Apa kabar dirinya ?
Aku merindukannya dalam diam
Aku memimpikannya dalam mimpi burukku

Apa dia telah melupakanku, dan mencintai wanita lain?
Uh.. wanita lain, membayangkannya saja membuat dadaku sesak.
Atau dia bertanya tanya tentang keadaanku disini?

Aku baik baik saja disini, walaupun sedikit terluka,
karena luka ku sesungguhnya takkan untukmu.. :)
Aku masih baik baik saja disini, sedikit menantimu,
karena jikaku terlalu banyak menantimu
aku takut penantianku akan sia sia.. :)
Aku tetap akan baik baik saja disini, tak mempunyai kekasih dan ke-singel an ku ini yang
membuatku bertahan, karena hanya kamu yang diam tak bergerak dihatiku.. :)

Aku mencoba tegar, sabar dan pasrah kepada Tuhan..
Dan dalam tulisan singkat ini, aku sadar

Bahwa aku telah jatuh ke lubang yang salah.

Senin, 15 Oktober 2018

Skripsiku telah selesai, semua tugas akhir kuliah sudahku selesaikan, aku berharap bisa
meraih pekerjaan yang pantas untukku, seorang Guru.. Itulah cita cita muliaku
Aku berharap bisa membahagiakan kedua orang tuaku :)

Dengan keteguhan hati, aku meminta ijin pada kedua orang tuaku untuk kembali mengejarnya ke Jakarta. Aku siap bertemu dengannya, dan aku siap untuk menyatakan isi hatiku.

Aku akan berkemas, menuju kota Jakarta.
Jakarta..
Aku kembali



Rabu, 17 Desember 2018

Sesampainya dikota yang penuh dengan kemacetan ini, aku gagal menemuinya, rumah lama
yang dulu ia tempati sudah bukan disana lagi, dan nomor teleponnya sudah tidak terdaftar lagi,
bagaimana bisa? Padahal dulu nomor ini yang sering ia pakai untuk menghubungiku.

Aku bertanya-tanya pada teman lamaku, namun tak ada yang tahu keberadaannya..

Tuhan...
Kenapa sulit bagiku untuk menemukannya?
Kenapa tak Kau biarkan hambamu ini bertemu dengannya?

Satu jam penuh aku hanya berjalan jalan disepanjang kota Jakarta, bertahun tahun
tak dapat kabar darinya dan dengan modal nekat aku menemuinya, namun hasilnya?
Nihil..

Tapi, aku tak pantang menyerah!
Aku akan tetap mencarinya, dan menemuinya! Bahkan aku akan bersumpah, jika aku tak
menemukannya, aku tidak akan pulang keasalku.. Semarang.

Aku menaiki taksi untuk mencari alamat sekolahku dengannya dulu, saat sampai disekolah lamaku ini
aku berjalan menyusuri kelas tiap kelas yang sudah mulai berubah, sekolah begitu sepi,
dan hari semakin gelap, mengingatkanku pada kejadian 8 tahun yang lalu, saat kita berdua
menerobos rintikan hujan bersama.

Dulu kita berjalan bersama penuh tawa menuju perempatan untuk mencari angkot,
sekarang kini hanya aku yang berjalan sendiri menuju perempatan.. untuk mencari kamu.



Tak ada tujuan dan hilang arah, aku berjalan ditengah kegelapan, tanpa sadar langkah kakiku
berjalan dengan sendirinya kearah rumah lamaku. Entah apa yang aku pikirkan.. Mungkin aku
penasaran, seperti apa sosok rumahku dulu? Apa sudah berubah?

Sesampainya dirumah lamaku, aku kaget.. tak ada yang berubah dari rumahku, masih
sama seperti dulu, tembok rumah berwarna hijau muda, pohon mangga didepan rumah,
dan lapangan volley persis didepan rumahku.

Aku berjalan mendekat, dan melihat lihat suasana disekitar rumah, sepi dan gelap.
Mataku berhenti pada seseorang yang sedang duduk dipinggir lapangan,
seseorang dengan kemeja biru navy melihat kearah jalan raya
sambil membawa sebuah kotak.

Sedang apa orang itu ada disini? Ini sudah malam.. Apa dia sedang menunggu seseorang?
Tanyaku dalam hati

Hampir lima belas menit aku memperhatikannya, tanpa mengecek handphone-nya, tanpa mencari-cari sosok seorang yang ia cari, tatapannya lurus kejalan raya sambil memegang erat kotak tersebut.

Sorot cahaya mobil yang lewat membuatku sekilas melihat wajah pria tersebut.
Seperti pria yang aku kenal?

Aku mendekatinya dari samping, jarak kami sekarang hanya 5 meter, aku diam memperhatikannya
saat dia berdiri dan menoleh kearahku, aku tercengang melihat wajahnya, sosok yang sedaritadi aku
cari cari kini ada didepanku.

Aku membalikan badanku, aku sungguh tak menyangka akan menemuinya disini, dia berjalan
kearahku lalu memegang pundakku.

   "Alia? Lo Alia?" tanya pria tersebut, dengan suara khas yang sering aku dengar.

Aku menoleh kearahnya perlahan.

   "Iya, lo siapa"

Wajahnya langsung berubah, dia sangat senang mendengar jawaban dari mulutku.

   "Ya ampun Alia, lo kapan nyampe Jakarta?!" ucapnya sambil mencubit kedua pipiku.

  "Tu-tunggu, kenapa lo bisa ada disini?" tanyaku sambil menyingkirkan tangannya dari pipiku

Dia tidak menjawab, hanya diam sambil memegang erat kotak yang dia pegang sedari tadi.
Lalu menaikan pundaknya, seolah olah ia tak tahu.
Konyol!

   "dih jawab, kenapa lo ada disini? lo nunggu siapa?" tanyaku penasaran

   "nunggu seseorang.." jawabnya sok misterius

   "yee, serius.. lo nungguin siapa dari tadi gue perhatiin lo tau"

   "masa ? gue lagi nunggu cewek"

Deg..
Cewek? Dia menunggu Perempuan?
Siapa?
Kekasihnya kah?

   "oh.. gitu" kataku singkat.

Hening sejenak, diantara kami berdua nampak saling canggung tak sanggup untuk memandang

   "um.. kapan lo nyampe Jakarta?" tanya dia berusaha mencairkan suasana

   "barusan kok"

   "dalam rangka apa lo ke Jakarta?"

   "gue ke Jakarta cuma pengen ketemu .."

Upss! hampir aku menyebutnya!

   "ketemu siapa?"

   "ng.. ketemu.. nenek gue! Iya, ketemu beliau"

   "ohh gitu"

   "Oiya, lo abis ini ada waktu gak, gue pengen ngobrol lebih lama sama lo!" ucapku

Dia memperhatikan jamnya

   "Gue mau nanya, apa lo udah punya pac.."

Pertanyaanku terputus,

   "lebih baik semua pertanyaan lo itu disimpen dulu" katanya sambil mendekatkan jari telunjuknya
di bibirku.

   "kenapa?"

   "ini buat lo" katanya sambil menyerahkan kotak itu padaku.

   "apaan nih?" tanyaku

Dia tak menjawab, hanya menantiku untuk membuka isi kotak tersebut,
aku membukanya secara perlahan..

  "Headset?" tanyaku sambil mengambil barang tersebut dari kotak.

   "Happy Birthday! Ini hadiah dari gue buat lo" katanya sambil mengacak acak rambutku
Astaga, aku lupa hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke-23

   "sebentar? kenapa lo ngasih headset yang sama persis ini ke gue?" tanyaku sambil menunjukan
headset itu didepan mukanya.

Dia hanya diam, lalu berjalan mundur

   "nanti lo akan tau, gue pergi dulu ya" ucapnya sambil berjalan mundur lebih cepat,
dan lari meninggalkanku.

   "Tu- TUNGGU! Mau kemana lo?!!!" teriakku, namun ia tak berhenti, dia hanya melambaikan
tangan padaku.

Aku tak bisa mengejarnya, kakiku terlalu letih karena seharian telah berjalan mencarinya,
namun ternyata dia yang sedaritadi menungguku didepan rumah.

Aku memegang  headset tersebut dan melihat kertas yang terselip di headset
tersebut,

   'Happy Birthday Alia <3
Selamat ulang tahun semoga menjadi anak yang berbakti pada orang tua,
dan selalu sehat sentosa, amin
Jika headset ini sampai ketangan lo, gue bersyukur banget,
karena setiap 17 Desember, gue nunggu lo didepan rumah lo,
ya walaupun gue tahu lo ada di Semarang :)
Oh iya, tahun ini gue akan pergi ke Luar Negri, gue keterima kerja disana :D
Akhirnya impian gue tercapai :)
Lo juga kejar impian lo ya! jadi guru kan?! 

suatu saat nanti kalau kita jodoh
kita pasti akan bertemu lagi'

Kertas itu memberikan jawaban atas semua pertanyaanku, aku hanya terdiam
membaca kata perkata pada kertas itu. Aku duduk lemas dipinggir lapangan, menangis..
entah air mata apa yang aku keluarkan.

Air mata kesedihan atau kebahagiaan, air mata yang aku tumpahkan untuk seseorang yang
aku sebut sebagai teman, yang kita lalui bagaikan keluarga, dan yang aku cintai
lebih dari pacar, dialah sosok yang aku sebut dengan inisial...





'R'






Cerita ini cuma cerpen, gak nyata~ Dan bukan kehidupan tentang gue :)


Mar 12, 2014

Niall Love Story: The End



"Apakah nada suaranya sudah betul?"

"Sebenarnya itu salah," Laki-laki beranbut blonde itu memindahkan jari jari
wanita itu ke atas snar gitar

 "Harusnya seperti ini Amy"

Wanita bernama Amy itu memetik senar gitar dengan perlahan

"Masih terdengar jelek" Ucapnya putus asa.

"Aku yakin kau pasti bisa," Niall berusaha meyakinkan Amy

"Hanya saja kau
harus lebih banyak latihan"

"Yeah"

Niall melirik jam dinding "Mereka membeli makanan lama sekali"

"Siapa?"

"Harry dan Alya" Niall mendesah kecil.

"Kau jealous dengan Harry?"

"Apa?"

"Kau jealous dengan Harry? Karena Alya dekat dengan Harry?"

"Itu karena mereka tinggal dirumah yang berdekatan"

"Apa kau jealous juga karena itu?"

Niall mengambil nafas panjang "Mungkin, terkadang"

"Kau benar-benar mencintainya ya?"

"Kalau aku boleh jujur--"

"Ya? Jawabanmu adalah ya?" Niall mengangguk "Apa aku terlambat?"

"Apa maksudmu?" tanya Niall

"Apa aku terlambat jika aku baru menyatakan ini sekarang?"

Amy menunduk,
semburat merah muncul dikedua pipinya.

"Menyatakan? Menyatakan apa?" Niall mengerutkan dahinya.

"I," Amy mendekatkan wajahnya ke wajah Niall "I love you Niall James Horan"

Kini wajah mereka hanya berjarak dua atau mungkin dua setengah senti,
sementara Niall diam, mencerna kembali kata kata yang baru saja keluar dari
mulut mantannya. Amy.

**

(HARRY POV)

"Sudah kubilang jangan membeli makanan terlalu banyak, dasar keras kepala"

Ku goyang-goyangkan dengan kasar kantung-kantung makanan di tangan
kanan dan kiri ku.

"Maaf Curls, lagipula tadi kau tidak mengingatkanku"

"Aku sudah mengingatkanmu bodoh" Ucapku kesal, sambil memelototi Alya.

"Oh ya? Maaf kalau seperti itu"

"Whatever" Ucapku tidak peduli, dan berjalan mendahului Alya.

Kupetar knop pintu dengan perlahan, entah kenapa perasaanku tidak enak
begitu memegang knop ini. Aku mendorongnya sedikit, pintu terbuka sedikit
sehingga aku bisa melihat apa yang terjadi di dalam, aku tersentak kaget, lalu
segera menarik pintu perlahan agar tidak mengeluarkan bunyi yang keras.

Tidak, Alya tidak boleh mengetahui hal ini, aku harus membawanya pulang.
Sekarang juga. Aku harap Alya masih tertinggal di lift saat aku mendahuluinya
tadi.

"Harry!" Seseorang menepuk punggungku, hampir membuat jantungku loncat
keluar.

Aku berbalik, tangan kananku masih memegang knop pintu di belakang
punggungku "Ya-ya?"

"Kenapa kamu berdiam disitu? Kenapa tidak masuk?" Tanya Alya was-was,
mata coklatnya melirik ke arah tanganku yang tersembunyi dibelakang
punggung, memegangi knop pintu, mencegah kemungkinan Alya membuka
pintu ini "Apa yang kau sembunyikan?"

"Nothing"

Alya melipat kedua tangannya di depan dada "Aku tidak yakin. Aku mau masuk
ke dalam, biarkan aku lewat"

"Tidak Alya" Aku merentangkan tangan, mencegah dia masuk

"Lebih baik kita pulang" Dengan cepat aku menggandeng tangan Alya dan menyeretnya
menjauhi ruangan itu "Aoou!" Teriak ku, ketika dengan liarnya Alya menggigit
tanganku yang menggandeng tangannya erat.

"Sudah kubilang aku mau masuk ke dalam dan memberikan makanan ini pada
Niall, aku yakin dia lapar sekali saat ini" Ucap Alya sambil berjalan mundur
mendekati ruangan itu lagi, tangan kanannya merogoh tas dan mencari
sesuatu

"Dan juga memberikan ini" Dia mengangkat bola kaca yang dibelinya
sebagai hadiah untuk Niall dengan senyum mengembang di bibirnya.
Aku mendecak keras "Aku yakin dia tidak--"

"Niall aku datang" Alya membuka pintu itu lebar "Uh-eh, maaf"

"Alya?!" Kudengar suara kaget Niall dari dalam. Alya menutup kembali pintu
itu, aku tahu bagaimana perasaan Alya saat ini "Apa yang kau maksud adalah
ini?" Matanya mulai berkaca.

Terlambat.

Aku terlambat mencegahnya. Aku mengutuk diriku karena gagal mencegahnya
masuk.

Alya menatap ku lama dan berlari menubruk dadaku, dia menangis terisak di
dadaku, aku memeluknya erat. Kukecup puncak kepalanya lembut "Sudah
kubilang jangan masuk, benar-benar keras kepala"

"Aku bisa menjelaskan semuanya" Niall muncul begitu saja di depan pintu,
berdiri beberapa meter dari tempatku dan Alya, di susul Amy yang hanya
tertunduk dan tidak berkata apa-apa

"Ini tidak seperti yang kau bayangkan"
Alya melepaskan pelukan ku, dan berjalan mendekati Niall, aku memegang
tangannya, mencegahnya mendekati Niall

"Biarkan aku memberikan ini Har" Aku melepas cengkramanku di
lengan kiri Alex.

"Ini untukmu" Alex meraih tangan Niall dan memberikan bola kaca itu di telapak
tangan Niall

"Jangan tanya aku kenapa aku memberikannya, tadinya aku mau
mengejutkanmu dengan benda ini, tapi ternyata kau lebih dulu mengejutkanku.
Terima kasih Ni, aku mengerti sekarang" Alya tersenyum hambar ke arah Niall

"Dan aku juga..mau mengakhiri semuanya, hubungan kita ini"

*Alya POV*

Aku berjalan lemas dikoridor, dan Niall terus berteriak memanggil namaku, aku tetap terus berjalan dan pura pura tak mendengarnya. Niall berhasil mengejarku dan menggenggam tanganku.

   "Alya, tunggu. Biarkan aku menjelaskannya padamu" ucap Niall

   "Menjelaskan apa? Itu semua sudah jelas"

   "Kau tidak tahu, itu tadi hanya sebuah kecelakaan" ucapnya dengan wajah penuh kepanikan.

Aku hanya menghela nafas dan melepas genggaman tangannya.

   "Apakah kau mencintai Amy?" tanyaku.

   "Kau tidak tahu, dia mendekatkan kepalanya ke kepalaku, dan aku tak sengaja berciuman dengannya"

   "Bukan itu jawaban yang aku mau Horan, jawab pertanyaanku, Apa kau mencintainya?" tanyaku sekali lagi.

Niall terdiam beberapa saat, dia memutar kedua bola matanya lalu kembali menatapku.

   "Amy.. Ya oke, aku mencintainya" Ucapnya.

   "Tapi, tapi itu dulu dan sekarang hubungan kita hanya sebatas mantan, dan.. dan.."

   "Dan sekarang kau dengan Amy bersatu lagi dan balikan, Perfect!"
Aku memotong perkataan Niall, lalu berjalan menjauh meninggalkannya

   "Bukan, bukan itu Alya. Please kasih aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita"
Ucap Niall sambil menggenggam tanganku dengan erat, dan membuat sakit dipergelangan tanganku.

   "Lepaskan aku Niall, sakit"
 
   "Tolong, maafin aku Alya" Ucap Niall tanpa mempedulikan kesakitan ditanganku.

   "Kau tidak tahu cara memperhatikan seorang wanita ya, lepaskan tanganmu"

Tiba-tiba Harry muncul dibelakangku,
lalu melepaskan cengkraman tangan Niall dari tanganku. Aku mengelus pergelangan tanganku yang mulai kemerahan.

   "Aku mau pulang Harry, bisakah kau mengantarku?" Ucapku pada Harry

   "Baiklah"

   "Biar aku saja yang mengantarmu Alya" Ucap Niall

   "Tidak usah Niall, kau mengantar Amy saja, kasihan dia sendiri menunggumu diruangan" kataku lalu pergi bersama Harry, namun Niall tetap mengejarku dan menggenggam tanganku, kali ini lebih lembut.

   "Tolong, aku ingin mengantarmu pulang, Alya" Ucapnya.

   "Tidakkah kau mendengar apa yang ia ucapkan, dia hanya ingin pulang denganku, bukan denganmu" Ucap Harry sambil melepaskan genggaman tangan Niall padaku. Aku pergi begitu saja disusul Harry disampingku.

Aku masuk kedalam mobil dengan keadaan kacau, air mata membanjiri pipiku, tak kusangka mereka akan melakukan hal itu dibelakangku. Harry masuk kedalam mobil, aku menghapus airmataku dan mencoba tetap tegar.

   "kau tau, aku sebenarnya sudah tau kejadian ini" katanya sambil mengelus kepalaku, mencoba menenangkanku

   "diamlah Harry, tolong antarkan aku pulang"

   "baiklah, tapi berjanjilah jangan menangis lagi" dia memberikan jari kelingkingnya padaku.

   "okay, pinky swear"

Harry kemudian menyalakan mobilnya, dan mengantarku pulang. Selama perjalanan tak ada pembicaraan sama sekali, dan itu membuatku nyaman.

Mar 7, 2014

Short Story: Nightmare



Mengungkapkan perasaan itu memanglah tak mudah, apalagi gue adalah cewek. Kita memang sudah lama bersama, dan lo anggep kita ini adalah sahabat. Ya.. just a friend. Nama gue Alia dari SMP gue naksir sama Fitro, bagi gue dia lain dari anak anak yang lainnya, dia spesial, gue berusaha menjadi teman yang baik buat dia, gue gak mau nunjukin ke dia kalo gue suka sama dia, soalnya gue takut kalo suatu hari nanti gue ketauan naksir sama dia gue bakal dijauhin dari dia, makanya gue gak pernah curhat ke siapa siapa bahkan ke sahabat gue sendiri, alda. Mereka gak tau gue naksir sama dia. Cuma gue dan Tuhan yang tau perasaan ini..


Pertemuan pertama kita terjadi pada saat itu didepan sekolah, gue anak baru yang lagi bingung nyari" kelas gue dan pengen ke ruang TU untuk nanya dimana kelas gue, didepan ruang TU gue liat sosok cowo berkulit sawo matang, tinggi, dengan rambut ikal acak-an dan bajunya dikeluarkan berdiri dihadapan gue.
Kita sama sama saling bertatapan, siapa nih? Sangar amat wajahnya. Peduli amat, gue langsung masuk ke TU dan mendapatkan ruang kelas gue.
Saat gue keluar dari ruang TU, cowok tadi masuk dengan santainya.. penasaran, gue nguping beberapa saat
"Kamu ini anak baru udah berani-beraninya bolos dan ngerokok dikamar mandi! Mau jadi apa kamu?"
Wuih, ternyata dia anak baru sama kaya gue. Ckck gue yakin dia pindah kesini pasti karna bandel banget.
Karena bukan urusan gue, gue pergi dan nyari kelas gue 8A, dan setelah gue nyari-nyari akhirnya ketemu!
Gue langsung memegang gangang pintu kelas dan bersamaan cowok tadi yang diruang TU juga mau memegang ganggang pintu kelas.
"Lo ngapain?" Tanya dia sambil menatapku
"Ya masuk kelas lah, lo ngapain disini?"
"Bah ini kelas lo? Gue ga pernah liat lo?"
"Jadi kita sekelas???"
Gue masih ga percaya bakal sekelas ama anak baru yang slengean ini.
Setelah itu gue jadi lebih akrab sama dia karena mungkin kita sama-sama anak baru, gue selalu berantem sama fitro, pernah gue satu kelompok sama dia saat pembuatan mading, dan gue lagi lagi berantem sama dia,
"ini madingnya dikasih hiasan aja" kata gue

"jangan! ga setuju gue! mending gini aja lebih alami" bantah fitro

"dikasih hiasan biar yang baca tertarik tau!"
"hiasan segala lebay ah, lagian bikin kotor!"
"ya hiasannya yang bagus lah jangan yang murahan!!!"
"kok lo nyolot bgt sih!"
"lo duluan tau!"
"pokonya lo nurut apa kata gue!!"
"enak aja! lo kan bukan ketuanya!"
"DIAAMMM!! Berisik tau, lo berdua tuh udah kaya anjing sama kucing, berantem mulu pusing gue jadinya! Ini rumah gue, lo kalo mau berantem keluar aja sana" Kata Annisa sambil megang kepalanya
Gue sama Fitro bengong
"Keluarr! Malah diem aja!"
Teriaknya sambil menunjuk pintu keluar.
Gue sama Fitro ngikut apa kata ketua aja, diluar rumah (teras) gue sama fitro masih aja berantem.
"Ini semua gegara lo tau!" kata dia ke gue
"Ih apaan! lo duluan bege yang mulai"
"lo duluaan!!"
"gue cute nih! (cubit tete)" kata gue
"cubit aja !! ga takut!!"
Karena kesel gue cubit dadanya, dan gue pelintir, dia meringis kesakitan hihihi
"Eh beneran lagii sakit tau!!"
"sukurin mampus!"
"gue cute genti lo!"
"emang beranii? sini kalo berani!!" *parah bgt gue*
Fitro liat liat tubuh gue, lalu bingung sendiri *hehe*
"hayok! katanya mau nyubit?"
Dia pun tersenyum dan langsung nyubit pipi gue
"hahaha! emang gue ga berani apaa!!"
"curang!!!"
"emang lo mau gue cute?"
"heh!! mesum banget lo!"
Annisa nongol dipintu
"heh kalian disuruh diem diluar malah pacaran diluar! Cepetan masuk kerjain madingnya!"
Gue sama fitro saling pandang dan masuk kedalam rumah untuk melanjutkan pembuatan mading.

3 tahun berlalu
Setelah sama-sama lulus SMP dan lost contact sama dia karena gue pindah ke semarang, gue mulai akrab lagi sama fitroh, gue kira setelah 3 tahun tanpa kabar darinya, gue udah mulai bisa menghilangkan rasa cinta monyet ini.
Ternyata gue salah, perasaan itu makin lama makin besar, karena setiap gue ngetext dia, dia selalu membalasnya dengan berjuta perhatian dan ketulusan yang buat gue semakin berharap. Apakah jangan - jangan dia merindukan gue?
Akhirnya gue lulus SMA, gue ngelanjutin kuliah dan gue gatau dia kemana, selama beberapa tahun gue fokus buat kuliah, gue sama sekali ga pernah komunikasi lagi sama fitro, mungkin sekarang ini dia lagi diluar negri, entahlah.. gue pengen fokus sama cita cita gue, nanti kalo gue jadi orang sukses, baru gue akan mengungkapkan semua perasaan gue :)
Hari dimana gue akan ke jakarta pun tiba, didalam kereta menuju jakarta gue nyiapin mental buat ngungkapin perasaan gue ke dia, apalagi gue dapet sms dari alda katanya dia nitipin surat buat gue, aduh seneng banget pasti itu surat kalo dia cinta sama gue akhirnya didalem kereta gue senyum senyum sendiri :) :)
Sesampainya dijakarta gue langsung ketemuan sama Annisa, sahabat gue dari SMP. Kami saling bercerita tentang kuliah dan pekerjaan masing-masing dan gue memberanikan diri untuk bercerita  gimana sukanya gue sama fitroh
  "Sebenernya gue suka sama fitroh dari smp"
  "hahhh? Kok gue gatau?"
  "iyaa gue nutupin itu dari, maaf banget yaa, gue punya alesannya kok, gue gak pengen dia tau kalo gue naksir dia, soalnya pasti dia nolak gue mentah mentah dan menjauh dari gue, lagipula dia udah anggep gue sahabat sendiri"
  "ya ampunn, hebat bgt lo nutupin perasaan lo"
"Maka itu gue balik lagi kesini pengen ungkapin semua itu ke dia, sekarang dia dimana ya?"
Annisa terdiam, dia menarik nafas perlahan
  "kok diem? ada yang salah ya?"
  "emang lo belom tau ya?"
  "belom tau apa?"
Annisa buka tasnya, dan ngasih amplop putih ke gue, surat?
  "Ini surat yang dititpin fitroh buat gue?"
Annisa menganguk, gue segera mengambil amplop itu, kok gue jadi degdegan gini..
Perlahan lahan gue buka isi amplop itu, ternyata isinya bukan surat tapi undangan, gue bingung, gue menoleh ke arah Annisa, wajahnya tampak sedih.. gue makin gak ngerti.
Undangan itu terdapat foto fitro sama cewe, dan tertulis jelas itu undangan pernikahan untuk Alia Amira.. Entah kenapa hati gue sakit banget ngelihat cover undangan itu, tanpa sadar gue meneteskan air mata, dan membasahi undangan itu, gue nangisss, Annisa memeluk gue erat, mereka bilang
  "sorry al gue baru ngasih tau lo sekarang.." katanya perlahan
Gue bingung mau gimana, hati gue udah terlalu sakit, tanpa sadar gue menjatuhkan undangan itu dan nangis dipelukan Annisa
  "Kenapa dia jahat banget sama gue... kenapa gue ga ungkapin perasaan ini dari dulu! Begonya gue"

Diperjalanan menuju gedung pernikahan, gue hanya melamun lemas melihat kearah ke jendela mobil, Annisa disebelah gue yang sedang menyetir kembali beryanya ke gue
 
"lo beneran mau dateng ke acara kawinannya fitro?"
gue menganguk lemas, sambil memegang erat undangan pernikahannya.
Setelah sampai, gue sama Annisa berpisah didalam gedung pernikahan, Annisa bertemu dengan teman-temannya sedangkan gue sendirian mengambil segelas sirup diantara keramaian pesta itu.
Gue nyari fitroh, tapi ga ketemu, gue malah liat ada cewe pake gaun warna putih, cantik banget, kulitnya putih, langsing dan senyumannya bikin melting, dan dia.. bersama fitroh.
Gue hanya terpana pada fitroh, ternyata dia udah tumbuh menjadi dewasa, udah ga dekil lagi, dandanannya rapi dan.. gue akui dia terlihat ganteng banget
Gue tersenyum lalu gue melihat lagi pendamping disebelahnya, dialah pendamping masa lalunya dia aja, tanpa sadar lama gue menatap fitroh, fitroh menatap kearah gue juga, air mata gue jatuh, tapi gue berusaha senyum didepan dia.
Gue langsung kekamar mandi, gue nangis didepan kaca, maskara dan eyeliner semua make up gue luntur, mata gue bernoda hitam banyak, kenapa dengan gue ini? kenapa gue begitu pengecut?
Gue kan ke jakarta pengen ngungkapin semua perasaan gue ke dia, kenapa setelah gue ketemu sama dia, gue malah ngehindar?!! Annisa keluar dari wc, dia kaget ngelihat gue nangis, gue langsung meluk dia
  "gue pengecut nis.. gue ga berani  ketemu dia"
***
Setelah gue cuci muka, acara sudah mulai selesai, sang mempelai wanita sedang sibuk berfoto dengan teman-temannya, dan fitro berada gak jauh dari tempat duduk gue
Tanpa sadar gue memperhatikan dia, batin gue
samperin-gak-samperin-gak-samperin-gak???
Akhirnya fitro sadar kalo gue ada dideketnya dia, dia langsung samperin gue. Ohhh shit!! gue musti gimana ini?!!
  "hei al, lo dateng juga, gue kira lo masih disemarang"
  "he- he iyaa"
  "lo bela belain dateng dari semarang buat ke acara kawinan gue kan?"
*bukaan, gue kesini mau ngomong kalo gue suka ..
  "iy iya gue kesini dapet undangan dari Annisa, hehehe"
  "tuh kan benerr.."
hahaha, tampak hening beberapa saat, gue agak canggung juga.
Gue liat seseorang manggil dia untuk foto bersama,
  "gue kesana dulu yah" katanya
ah.. padahal ini kesempatan emas buat ngungkapin perasaan gue. Tapi gue gak yakin mau ngungkapin apa enggak.
Gue memegang tangan fitroh, dia menoleh dan tampak kaget
  "kenapa al?"
anjrittttt gue ngapain sih, goblok! tolol!
  "gue, guee" kata gue terbata bata
  "kenapa al? jangan bikin gue panik napa!"
fitroh makin mendekat ke gue, gue makin panik bego kalo kaya gini.
Oke you can do it!!
  "gue suka sama lo, enggak, gue cinta sama lo, dari smp! iya dari awal kita ketemu bahkan, tapi gue ga berani ngungkapin semua ini, tapi ini beneran, gue, gue sampe sekarang sayang sama lo gue cinta sama lo" kata gue super cepat dengan nafas tak beraturan.
Fitroh kaget, dia noleh ke kiri ke kanan, dia nampak bingung, akhirnya kita diem beberapa saat, lalu gue membuka pembicaraan lagi.

"sorry kalo gue ngomong gini disaat yang ga tepat, tapi gue kejakarta sebenernya mau ngomong ini sama lo"
Fitro tersenyum, manis bangeet
  "gue juga suka sama lo alia"
Gue senyum, bahagia bangeeet :)
  "tapi itu dulu waktu smp, gue kira lo ga suka sama gue, makanya gue tahan perasaan suka ini, gue malu buat ungkapin perasaan gue dulu ke lo"
Kami berdua sama sama terdiam.
"Dan ternyata kita sama sama saling suka" katanya sambil mengelus pipi gue.
"Iya, disaat yang ga tepat"