#Niall Short Story#
-
-
-
“Princess..”
Aksen Irlandia terdengar sayup di telingaku yang masih setengah terjaga. Perlahan ku membuka kedua kelopak mataku, membiarkan berkas sinar matahari menerangi iris mata cokelat gelapku. Di sisiku, seorang pemuda pirang bermata sebiru samudera menyambutku dengan dekapan hangat. Aku bisa merasakan sepasang lengan kekarnya memelukku dengan protektif.
“Good morning, Nialler..”
“Morning sweetheart.”Sahut pemuda pirang tersebut lembut,
“Today is a big day for you, isn’t it? I will take care of you all day long.” Kamu hanya tersenyum tipis,
“You’re too hyperbolic. Aku sudah sering melewati hari-hari semacam ini,” tukasmu sederhana,“Puluhan kali, just for your information. This ain’t my first time.” Pemuda yang ku sapa Nialler tadi hanya mengangguk singkat
“You’re beautiful, and too strong for a little girl. That’s why I love you.” Sebuah kecupan singkat mendarat mulus pada keningku. Membuatku tertawa renyah.
“I love you too, my nialler”
Ya, aku---gadis yang beruntung bisa memiliki seorang Niall Horan di sisi tempat tidurku setiap hari ,rupanya tak seberuntung kelihatannya. Mata cokelat bersinarku memang bisa menyembunyikannya, begitu pula dengan bibir merah mudaku yang selalu merekahkan senyum. Jauh di dalam diriku, ada sebuah penyakit berbahaya yang mengancam hidupku. Aku terlahir dengan kelainan jantung, dan membuatku kerap melakukan operasi klep jantung setiap beberapa bulan sekali dan minum obat setiap harinya. Hari ini, adalah yang kesekian puluh kalinya aku menjalani operasi tersebut. Niall tahu akan hal itu, dan hal itu pula yang membuat pemuda Irlandia tersebut begitu mengagumiku sebagai tunangannya. Aku adalah gadis yang kuat, sangat sangat kuat. Niall mendaratkan satu lagi ciuman pada dahiku.
“C’mon get up from the bed. There’s some breakfast for you down stair, Alia.”
“Thank you, you’re the best.” Aku membawa Niall dalam pelukanku, sebelum akhirnya berdiri dan turun untuk sarapan.
Sepanjang hari dihabiskan oleh aku dan dia dengan duduk berdampingan di sofa dengan selimut, popcorn, soft drink dan setumpuk DVD. Siang telah berlalu dan sore kini menjelang, Niall memeluk tubuhku ,kekasihku yang telah mendampingi hidupku sejak dua tahun belakangan ini,dan menyandarkan dagunya pada bahuku, seolah tak akan pernah ingin dipisahkan.
“I love you so much. You’re like an ecstasy, and I’m overdose.” ucap Niall
Aku tersenyum dengan rona merah pada pipiku. Tetapi sebelum aku sempat membalas ucapan Niall, pintu apartemen menjeblak terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu. Sedetik kemudian, muncul sosok pemuda berambut cokelat gelap ikal, disusul dengan yang berambut hitam legam kemudian di belakangnya muncul lagi dua pemuda berambut cokelat kacang. Yes, they are Harry, Zayn, Liam and Louis..
“Hey massive lazy couple,” Harry datang dengan wajah ceria.
“Don’t you say that you guys spend all the day with a tons of DVD and cuddle up on couch..” Niall melemparnya dengan sebutir popcorn.
“Haha! Unfortunately, that’s pretty rite.” Harry menangkap popcorn yang dilempar Niall dengan mudah, kemudian memasukannya ke dalam mulutnya.
“By the way Al , how are you today? You will go to the hospital tonight?” tanya Harry
“Yeah we’re here to support you.” Liam menyambung kalimat Harry.
Aku tersenyum simpul, memandang pada empat sahabat terbaikku itu.
“Yeah it will be my.. twenty first time? Or twenty third, maybe? Hah, I don’t even count that anymore..” Kalian semua tertawa.
Tetapi jauh dalam hatiku, aku bertanya-tanya.. Kapan semua ini akan berakhir? Operasi setiap bulannya, minum obat agar rambut diepalaku tak berguguran. Berapa lama lagi aku akan hidup? Beberapa jam ke depan kita habiskan dengan memasak dan menonton The Dark Knight Rises, film favorit kita berenam. Hingga akhirnya malam menggantung di langit, aku harus bersiap-siap berkemas menuju rumah sakit untuk operasi. Orang tuaku dalam perjalanan ke sana, menemaniku melewati semuanya seperti biasa. Harry bangkit berdiri dari sofa.
“Well Al , we have to go to do an interview. And Niall, join us as soon as possible. It won’t take a long time.” Ujarnya padaku dan Niall.
“We will visit you tomorrow with Perrie, El and Dani,” Zayn mengambil jaketnya, disusul dengan yang lain,
“Good luck babe!” Kemudian Louis memelukku
“Yeah, we love you Alia! Good luck. See you tomorrow.” Keempat sahabat lelaki itupun bergantian mengucap salam, memelukku dan berjanji akan datang menjengukku besok. Kemudian mereka meninggalkan apartemenku dan aku bersiap-siap menuju rumah sakit.
Hujan turun membasahi London pada malam itu. Aku duduk nyaman di dalam mobil sementara Niall memegang kemudi. Kalian berdua terdiam, menunggu satu sama lain untuk mengucap kata.
“Princess..” panggil Niall
“Yes, babe?”
“Are you alright?” Aku hanya tertawa kecil,
“Yes of course. Ini hanya operasi klep jantung biasa, Nialler… Bukan operasi besar, apalagi pencangkokan jantung..”
“Kapan kira-kira kamu akan mendapatkan donor?” Raut wajahku berubah muram,
“I don’t know.. Maybe someday.” Jawabku singkat.
Bertahun-tahun aku menunggu untuk mendapatkan donor, tetapi sampai sekarang hasilnya masih nihil. Hanya itu satu-satunya cara untuk memulihkanku. Selama aku belum mendapat donor untuk operasi cangkok jantung, aku tak akan pernah sembuh.
“Yeah, Princess.. I believe one day you’ll be healthy as everyone else. I will always be by your side. I won’t go anywhere. I promise, Princess..” Niall berkata lirih dengan senyum khasnya. Senyum yang selalu membuatku tergila-gila.
Bentley yang dikemudikan Niall berhenti pada lobby rumah sakit yang sangat familiar denganku. Aku melihat kedua orang tuaku berdiri di dekat meja front office, menunggu kehadiranku.
“I gotta go for a while to do a short interview.” Ujar Niall sembari menghela nafas. Aku mengangkat bahu,
“Okay, no problem.” Niall menggenggam tanganku, kemudian membawaku pada pelukannya. Ia tahu kalau aku sangat suka dipeluk, dan ia selalu mencoba melakukannya sesering mungkin. Bagiku, tak ada tempat yang lebih nyaman dibanding berada dalam pelukan Irish leprechaun-ku.
“You will survive, Princess.. You will life until you get very very old. We will make a good family..” Setengah heran, tetapi aku hanya mendekap Niall-ku lebih erat lagi,
“Yes babe, I will, we will. I love you.” Nafas Niall berhembus hangat di tengkukku,
“I have a surprise for you. But you have to do your surgery first,” suara kekasih pirangku berubah menjadi sebuah bisikan, “Aku akan menjadi orang pertama yang kau temui ketika kau bangun besok, as usual Princess.. And I will bring the surprise.” Aku menjadi penasaran, tetapi rupanya aku menikmati rasa penasaran tersebut sehingga kau enggaan mendesak Niall untuk membeberkan rencananya,
“Well, Prince.. Promise me?”
“I promise babe.” Kemudian Niall mendekatkan wajahnya pada wajahku, menciumku tepat di bibir untuk beberapa saat.
“Well, masuklah ke sana. Aku akan menyusulmu nanti, Princess..” Aku mengangguk, kemudian mengambil tasku dan membuka pintu mobil.
“Princess..” Aku berbalik,
“Yes, Nialler?”
“I really love you.” ucap Niall singkat
-
-
-
***Niall Horan***
Aku mengemudikan Bentleyku dengan kecepatan sedang. Hujan belum kunjung reda, namun kabut mulai menipis. Aku kini berada dalam perjalanan menuju rumah sakit setelah selesai dengan beberapa interview mendadak dari sebuah stasiun radio. Kota London mulai sepi, mengingat ini hampir tengah malam. Operasi tunanganku akan berlangsung kira-kira satu jam dari sekarang dan aku telah memperkirakan akan datang tepat waktu. Tanganku merogoh saku jaket. Aku menggenggam kotak kecil berbahan beludru yang telahku persiapkan jauh-jauh hari. Besok adalah saatnya. Aku mencintainya sebegitu dalam, walaupun aku tahu kalau kekasihku itu sangat ringkih dan lemah. Tetapi hal itulah yang membuatku jatuh cinta. Bagaimana bisa aku melupakan sepasang mata bersinar yang selalu memancarkan kekuatan besar dibalik penyakit berbahaya yang membayanginya?I loves her, so damn much.. Akupun meraih BlackBerryku, membuka menu message dan mengetik pesan singkat. Ketika mataku sedang terpaku pada layar telepon genggam, tak sadar mobilku melaju menerobos lampu merah. “Shit, shit!” Dan dalam tempo waktu bersamaan, sebuah truk besar datang dari arah samping. Aku menginjak pedal rem sedalam-dalamnya, namun naas sekali segalanya telah terlambat. Bunyi klakson truk dan Bentley-ku membahana, kemudian sepersekian detik selanjutnya, bunyi hantaman memekakkan telinga antara dua buah material sama keras membelah malam dan hujan. Bentley-ku terhempas begitu saja sejauh beberapa puluh meter. Bunyi tubrukan antara logam dan aspal yang menyayat hati berkali-kali terdengar sebelum akhirnya mobilku teronggok mengerikan di pinggir jalan. Teriakan beberapa orang terdengarditelingaku, meminta pertolongan kepada siapapun.
“Hey!! Is he still alive?”
“He’s still breathing!”
“Hold on, Kid! Please hold on!”
“Damn! His body stuck between the dashboard and seat!”
“Holy shit, he’s bleeding! So freakin much!”
Selanjutnya bunyi sirene ambulans menyusul. Orang-orang segera mengangkat tubuh tak berdayaku setelah menariknya paksa dari jepitan dashboard, air bag dan jok mobil.Lalu detik berikutnya, bau obat-obatan di dalam ambulans adalah hal terakhir yang aku rasakan.
‘Good luck for your surgery. I’ll be there as soon as possible. I love you forever and always princess xx’ His message was still waiting to be sent on Niall' BlackBerry
***
“Mom, where’s Niall? He said he would be here before my surgery.” Aku bertanya pada ibuku dengan setengah kesal,
“I was trying to call him but there’s no answer.” Ibuku hanya mengangkat bahu,
“I don’t know. Maybe he’s on his way, Sweetie..” Seorang dokter dan beberapa suster memasuki kamar rawatku. Ini berarti operasimu akan segera dimulai.
“No, no.. Can you delay my surgery? Just for a few minutes.. I’m still waiting for someone.” Tukasku pada tim dokter yang akan mengoperasiku. Mereka hanya mengangguk, dan kemudian meninggalkan kamarku.
“Damn, Nialler! Where are you?” aku mengumpat pada layar telepon genggamku saat operator telepon yang menjawab panggilanku, not your Nialler. Pintu kamarku dibuka lagi, kali ini ayahku yang muncul,
“Hey, I wanna talk to you about something.” Ujarnya kepada ibu.
Kemudian tanpa berkata apa-apa mereka keluar kamar, meninggalkanku sendirian yang masih sibuk dengan rasa kesalku.
-
-
***
“Niall kecelakaan…” Wanita paruh baya tersebut terperanjat mendengar pernyataan suaminya. Matanya membesar,
“Then?”
“A truck hit his car. They can’t help him.. He’s dead.” Wanita tersebut tak merespon, di wajahnya hanya tergambar keterkejutan yang amat sangat, seperti langit runtuh. Tubuhnya merosot, terduduk pada kursi di ruang tunggu. Niall? Bagaimana bisa?
“Dia meninggal saat perjalanan ke rumah sakit,” pria tadi melanjutkan ucapannya, “And you know what? Nurses in the ambulance said that..” nadanya berubah, lirih sekali, “Niall’s last word was.. ‘If he was dead, gave his heart to Alia. He loved her so much.”
Ada hening yang sangat panjang, sebelum wanita tersebut pecah dalam tangis
“You must be kidding me! How could… Oh my God, Niall! I can’t believe it!” ucap Ibu
“Yeah, yeah.. Me too. He’s too young, talented, and.. He loves our daughter, so does she..” ujar sang pria sembari memeluk istrinya. Masih dalam tangisan memilukan, wanita tersebut bertanya,
“Lalu, bagaimana?” “Orang tua Niall tahu tentang hal ini. Mereka dalam perjalanan dari Mullingar menuju London. Dan mereka setuju untuk memberikan jantung Niall pada Alia. You know, his parents love Alia so much.. Niall’s mother crying so hard.. Oh my God..” terang pria tersebut, berusaha menyembunyikan dukanya,
“Niall ada di rumah sakit ini, jantungnya telah diambil dan golongan darahnya cocok. Tim dokter pencangkokan jantung dalam perjalanan ke sini. Kondisi Alia dinyatakan prima untuk menjalani operasi besar ini.” Wanita tersebut hanya diam, menangis pilu. Tak membayangkan reaksi anaknya jika tahu tentang hal ini. Semuanya akan menjadi sangat sulit. Kemudian, derap langkah terburu-buru terdengar. Zayn, Harry, Liam dan Louis tergopoh-gopoh menghampiri pasangan paruh baya tersebut.
“Is Niall.. Is Niall…” Louis bertanya panik, tak ada lagi ekspresi jenaka pada wajahnya. Hanya kengerian dan ketakutan yang amat sangat, sementara sang pria baya hanya mengangguk dan memeluk pemuda bermata cokelat tersebut. Detik berikutnya, empat pria muda tersebut jatuh dalam tangis. Tangis yang paling pilu semenjak mereka tergabung dalam sebuah keluarga
***
-
-
-
“They can’t wait anymore..” Aku hanya menatap kesal pada telepon genggamku, kemudian gantian memandang ayah.
“Well, well.. Let say Niall got a massive discount in Nandos and now he’s spending his time there. Very funny.” Ayah hanya menatapku pilu.
“Okay, love? Good luck. I love you.” Aku membaca kekhawatiran dan kesedihan mendalam di mata ayahku,
“Oh c’mon dad, just a little surgery. I’m not the first-timer.. Where’s mom, by the way?”
“Yeah not a huge surgery..” ayah berusaha keras menutupinya,
“Your mom is talking with the doctor.”
“Well done, well done..” Suara tim dokter berbisik di dalam ruangan operasi. Operasi beberapa belas jam itu berhasil dilakukan, yah operasi biasa bukan pencakokan jantung, dan besok aku akan bertemu dengan Niall. Ya! Itu pasti! Dia sudah berjanji akan memberikan surprise padaku.
-------Four days later.. --------
“Hey! You’re finally awake!” Aku merasa begitu lelah, tubuhku kaku, tetapi aku tak pernah merasa sesehat ini sebelumnya. Suara husky Zayn menyadarkanku dengan cepat.
“Hello Zayn..” ujarku lirih, “Where’s Niall? Where’s my mom and dad? Where’s the other lads?” Zayn menggigit bibirnya kebiasaannya ketika ia panik dan nervous,
“Uh, emm.. The other lads are going to get their brunch. Your parents are talking to the doctor.”
“And Niall? Where’s that Irish bastard?” Kini Zayn mengacak rambutnya, makin panik,
“Uh, Niall.. He went to.. Mullingar! Yeah, he went to Mullingar yesterday..”
“WHAT? MULLINGAR? He promised me that he would be the first person I saw when I opened my eyes..” dan memberiku kejutan, tentu saja.
“Err.. I don’t know.. Really.” Tukas Zayn cepat, “Are you feeling great now?” Aku mengacuhkan Zayn dan meraih telepon genggamku untuk menghubungi Niall, tetapi ketika aku melihat tanggal dan hari yang tercantum, aku terperangah.
“Zayn! Today is Sunday!” “Yeah rite. Why?”
“God! I supposed to wake up at Thursday! I slept for 4 days! Something’s wrong here!” Zayn makin panik,
“Err.. Why did you ask me? I don’t know anything babe..” Kemudian pintu kamarku dibuka dan tiga sosok pemuda serta tiga perempuan menghambur ke arahku, menghujaniku dengan pelukan. All the rest of the lads are here, except your lovely Nialler..
“Hello El, Perrie, Dani, Liam, Louis, Hazza..”
“Hi Alia! How are you?” Eleanor mengusap rambutku dengan senyum.
“I’m feeling so damn great and healthy..” jawabku pendek,
“Guys, where’s Niall? He went back to Mullingar? Is he kidding me?” Pertanyaanku dijawab dengan keheningan.
“Why did he left me and break his promise? He supposed to be here when I woke up! He said he had a surprise for me!” kalimatku berurut panjang, mengabsen kekecewaanku pada pria pirang yang ku cintai. Tak ada jawaban, hanya Danielle dan Eleanor yang keluar dari kamar tanpa permisi. Harry berdeham,
“Err.. Ehm, Al.. Niall was..” ucap Harry
“Sweetie?” Ucapan Harry dipotong oleh suara ibu dan ayah yang tiba-tiba memasuki kamarku.
“Tell me the truth.. Where’s Niall?” kekecewaan dan kekhawatiranku tak bisa disembunyikan,
“Mom, Dad.. Where’s Niall?” Ada jeda panjang yang diisi oleh keheningan. Ibumu mulai terisak. Aku mencium ada sesuatu yang tidak beres,
“Mom, why did I sleep for 4 days? It supposed to be only a day..”
“Alia.. listen to us.” Akhirnya ayah angkat bicara.
“Yeah I’m currently listening to you.”
“Niall isn’t here.” ucap Ayah
“I know, he’s in Mullingar. Isn’t he?” Ayah mengangguk,
“Yeah..” Semua tertunduk, kini giliran Perrie yang keluar kamar, menahan tangis. Aku heran, jelas sekali ada sesuatu yang salah di sini.
“Damn, what happened? Why all the girls cried?” tukasku. Kemudian ibu menghampiriku, memelukku erat sembari ayah memberikan penjelasan.
“His body is in Mullingar.. Lay down forever there..” Semakin tak mengerti, aku mulai histeris,
“WHAT?!”
“When Niall drove his car to back to this hospital, he had a car accident..” Aku terperanjat, merasa duniaku hancur saat itu juga.
“Then…” kalimatnya tertahan di tenggorokan,
“He’s dead..” Lagi, aku hanya terdiam. Tubuhku mendadak kaku, dan buliran-buliran air mata membasahi pipiku. Pikiranku kosong, seperti dirampas tiba-tiba. Aku tak bisa berpikir, berbicara, atau bahkan bergerak. Aku pasti hanya bermimpi.. Mungkin ini adalah salah satu dari rencana Niall untuk mengejutkanku.. Ya, pasti begitu.. Niall tak mungkin pergi meninggalkanku.. Apalagi untuk selamanya..
“And the nurses in the ambulance said..” ayah menarik nafas panjang, suaranya hanya menjadi sekilas bisikan,
“Niall last word was.. Commanded to gave you his heart..” Air mataku mengalir deras, sangat deras. Aku merasa seperti ada palu besar yang menghantamku tepat di dada. Sakit, sangat sangat sakit.
“You lie!” aku mulai menangis,
“Niall said.. He would never leave me.. He would always be with me..” kalimatmu mengalir pilu, “And you know? NIALL HORAN NEVER BREAKS HIS PROMISE!”
Ibu memelukku erat, begitu juga dengan Zayn, Liam, Harry dan Louis. Saat itu juga aku sadar kalau mereka tak berbohong. Louis tak bisa pura-pura menangis, begitu pula Zayn, Harry dan Liam. Tetapi kini aku melihat mereka pun menitikan air mata pilu. Aku berontak, berusaha menangis sejadi-jadinya dan memukul-mukul dadaku, berharap aku akan jatuh pingsan seperti biasanya jika kau merasa terlalu marah atau sedih. Tetapi semuanya nihil, jantung Niall dalam diriku bekerja terlalu baik.
“I DON’T NEED HIS HEART!! ALL I NEED IS HIM!” teriakku
“We know.. We know, Al.. We need him too..” suara Liam terdengar pecah,
“But that already happened..”
“BULLSHIT!! HE SAID HE WOULD BE HERE AND GAVE ME A SURPRISE!” aku berteriak, masih berharap kau akan jatuh pingsan dan terbangun dengan Niall berada di sisiku dengan lengannya yang memelukku erat seperti biasanya,
“I DON’T NEED A SURPRISE LIKE THIS HORAN!” aku tak pernah membayangkan akan kehilangan Nialler-ku, tak pernah sedetikpun. Yang aku takutkan selama ini adalah aku yang akan meninggalkannya karena penyakitku, bukan sebaliknya. Kini aku tak akan pernah lagi mendengar sebutan ‘Princess’ yang sangat aku sukai, atau menghabiskan waktu dengan bersandar pada dada bidangnya sembari bercerita tentang hari-hari yang kalian lewati.
“Nialler.. You’re a liar.. WHY DID YOU LEAVE ME? YOU’RE A FUCKIN BASTARD! ”
Aku begitu mencintai pemuda pirang Irlandia-ku. Aku menyukai caranya tertawa, menyukai kejutan-kejutan kecilnya, menyukai caranya menciumku atau caranya bermain dengan rambutku. Dia selalu bilang bahwa aku begitu wangi, itu sebabnya ia selalu memelukku. Aku masih ingat saat terakhir aku bertemu dengan Niall-ku, bagaimana ia memelukku, bagaimana ia mengecupku, bagaimana ia memanggilku princess, dan bagaimana caranya berkata kalau dia mencintaiku. Ayah kemudian menghampiriku, dengan matanya yang mulai berkaca-kaca, ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah.
“They found this in Niall’s pocket..” ayah meletakannya di telapak tanganku yang gemetar hebat,
“I guess.. That’s the surprise.. I’m so sorry sweetie..” Aku menggenggamnya dan kemudian dengan tanganmu yang lemah dan gemetar aku membukanya.
Adalah sebuah cincin perak dengan berlian berwarna kebiru-biruan yang berkilau indah---mengingatkanku pada warna mata Niall-ku, mata yang membuatku tak pernah bisa melupakannya sejak pertama bertemu. Di dalamnya terukir halus sebuah frasa sederhana---membuat tangisku semakin pecah.Nialler you're my super hero ,,thank you for your heart ,,I will safe it ,, Love you always Niall
THE END ---------
*maaf kalo bhs inggrisnya ada yang ngaco, maklum orang jawa bukan orang sono :D*
Selamat datang para jones yang haus akan cerita baper ^^
Showing posts with label Directioners. Show all posts
Showing posts with label Directioners. Show all posts
Apr 9, 2016
Mar 12, 2014
Niall Love Story: The End
"Apakah nada suaranya sudah betul?"
"Sebenarnya itu salah," Laki-laki beranbut blonde itu memindahkan jari jari
wanita itu ke atas snar gitar
"Harusnya seperti ini Amy"
Wanita bernama Amy itu memetik senar gitar dengan perlahan
"Masih terdengar jelek" Ucapnya putus asa.
"Aku yakin kau pasti bisa," Niall berusaha meyakinkan Amy
"Hanya saja kau
harus lebih banyak latihan"
"Yeah"
Niall melirik jam dinding "Mereka membeli makanan lama sekali"
"Siapa?"
"Harry dan Alya" Niall mendesah kecil.
"Kau jealous dengan Harry?"
"Apa?"
"Kau jealous dengan Harry? Karena Alya dekat dengan Harry?"
"Itu karena mereka tinggal dirumah yang berdekatan"
"Apa kau jealous juga karena itu?"
Niall mengambil nafas panjang "Mungkin, terkadang"
"Kau benar-benar mencintainya ya?"
"Kalau aku boleh jujur--"
"Ya? Jawabanmu adalah ya?" Niall mengangguk "Apa aku terlambat?"
"Apa maksudmu?" tanya Niall
"Apa aku terlambat jika aku baru menyatakan ini sekarang?"
Amy menunduk,
semburat merah muncul dikedua pipinya.
"Menyatakan? Menyatakan apa?" Niall mengerutkan dahinya.
"I," Amy mendekatkan wajahnya ke wajah Niall "I love you Niall James Horan"
Kini wajah mereka hanya berjarak dua atau mungkin dua setengah senti,
sementara Niall diam, mencerna kembali kata kata yang baru saja keluar dari
mulut mantannya. Amy.
**
(HARRY POV)
"Sudah kubilang jangan membeli makanan terlalu banyak, dasar keras kepala"
Ku goyang-goyangkan dengan kasar kantung-kantung makanan di tangan
kanan dan kiri ku.
"Maaf Curls, lagipula tadi kau tidak mengingatkanku"
"Aku sudah mengingatkanmu bodoh" Ucapku kesal, sambil memelototi Alya.
"Oh ya? Maaf kalau seperti itu"
"Whatever" Ucapku tidak peduli, dan berjalan mendahului Alya.
Kupetar knop pintu dengan perlahan, entah kenapa perasaanku tidak enak
begitu memegang knop ini. Aku mendorongnya sedikit, pintu terbuka sedikit
sehingga aku bisa melihat apa yang terjadi di dalam, aku tersentak kaget, lalu
segera menarik pintu perlahan agar tidak mengeluarkan bunyi yang keras.
Tidak, Alya tidak boleh mengetahui hal ini, aku harus membawanya pulang.
Sekarang juga. Aku harap Alya masih tertinggal di lift saat aku mendahuluinya
tadi.
"Harry!" Seseorang menepuk punggungku, hampir membuat jantungku loncat
keluar.
Aku berbalik, tangan kananku masih memegang knop pintu di belakang
punggungku "Ya-ya?"
"Kenapa kamu berdiam disitu? Kenapa tidak masuk?" Tanya Alya was-was,
mata coklatnya melirik ke arah tanganku yang tersembunyi dibelakang
punggung, memegangi knop pintu, mencegah kemungkinan Alya membuka
pintu ini "Apa yang kau sembunyikan?"
"Nothing"
Alya melipat kedua tangannya di depan dada "Aku tidak yakin. Aku mau masuk
ke dalam, biarkan aku lewat"
"Tidak Alya" Aku merentangkan tangan, mencegah dia masuk
"Lebih baik kita pulang" Dengan cepat aku menggandeng tangan Alya dan menyeretnya
menjauhi ruangan itu "Aoou!" Teriak ku, ketika dengan liarnya Alya menggigit
tanganku yang menggandeng tangannya erat.
"Sudah kubilang aku mau masuk ke dalam dan memberikan makanan ini pada
Niall, aku yakin dia lapar sekali saat ini" Ucap Alya sambil berjalan mundur
mendekati ruangan itu lagi, tangan kanannya merogoh tas dan mencari
sesuatu
"Dan juga memberikan ini" Dia mengangkat bola kaca yang dibelinya
sebagai hadiah untuk Niall dengan senyum mengembang di bibirnya.
Aku mendecak keras "Aku yakin dia tidak--"
"Niall aku datang" Alya membuka pintu itu lebar "Uh-eh, maaf"
"Alya?!" Kudengar suara kaget Niall dari dalam. Alya menutup kembali pintu
itu, aku tahu bagaimana perasaan Alya saat ini "Apa yang kau maksud adalah
ini?" Matanya mulai berkaca.
Terlambat.
Aku terlambat mencegahnya. Aku mengutuk diriku karena gagal mencegahnya
masuk.
Alya menatap ku lama dan berlari menubruk dadaku, dia menangis terisak di
dadaku, aku memeluknya erat. Kukecup puncak kepalanya lembut "Sudah
kubilang jangan masuk, benar-benar keras kepala"
"Aku bisa menjelaskan semuanya" Niall muncul begitu saja di depan pintu,
berdiri beberapa meter dari tempatku dan Alya, di susul Amy yang hanya
tertunduk dan tidak berkata apa-apa
"Ini tidak seperti yang kau bayangkan"
Alya melepaskan pelukan ku, dan berjalan mendekati Niall, aku memegang
tangannya, mencegahnya mendekati Niall
"Biarkan aku memberikan ini Har" Aku melepas cengkramanku di
lengan kiri Alex.
"Ini untukmu" Alex meraih tangan Niall dan memberikan bola kaca itu di telapak
tangan Niall
"Jangan tanya aku kenapa aku memberikannya, tadinya aku mau
mengejutkanmu dengan benda ini, tapi ternyata kau lebih dulu mengejutkanku.
Terima kasih Ni, aku mengerti sekarang" Alya tersenyum hambar ke arah Niall
"Dan aku juga..mau mengakhiri semuanya, hubungan kita ini"
*Alya POV*
Aku berjalan lemas dikoridor, dan Niall terus berteriak memanggil namaku, aku tetap terus berjalan dan pura pura tak mendengarnya. Niall berhasil mengejarku dan menggenggam tanganku.
"Alya, tunggu. Biarkan aku menjelaskannya padamu" ucap Niall
"Menjelaskan apa? Itu semua sudah jelas"
"Kau tidak tahu, itu tadi hanya sebuah kecelakaan" ucapnya dengan wajah penuh kepanikan.
Aku hanya menghela nafas dan melepas genggaman tangannya.
"Apakah kau mencintai Amy?" tanyaku.
"Kau tidak tahu, dia mendekatkan kepalanya ke kepalaku, dan aku tak sengaja berciuman dengannya"
"Bukan itu jawaban yang aku mau Horan, jawab pertanyaanku, Apa kau mencintainya?" tanyaku sekali lagi.
Niall terdiam beberapa saat, dia memutar kedua bola matanya lalu kembali menatapku.
"Amy.. Ya oke, aku mencintainya" Ucapnya.
"Tapi, tapi itu dulu dan sekarang hubungan kita hanya sebatas mantan, dan.. dan.."
"Dan sekarang kau dengan Amy bersatu lagi dan balikan, Perfect!"
Aku memotong perkataan Niall, lalu berjalan menjauh meninggalkannya
"Bukan, bukan itu Alya. Please kasih aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita"
Ucap Niall sambil menggenggam tanganku dengan erat, dan membuat sakit dipergelangan tanganku.
"Lepaskan aku Niall, sakit"
"Tolong, maafin aku Alya" Ucap Niall tanpa mempedulikan kesakitan ditanganku.
"Kau tidak tahu cara memperhatikan seorang wanita ya, lepaskan tanganmu"
Tiba-tiba Harry muncul dibelakangku,
lalu melepaskan cengkraman tangan Niall dari tanganku. Aku mengelus pergelangan tanganku yang mulai kemerahan.
"Aku mau pulang Harry, bisakah kau mengantarku?" Ucapku pada Harry
"Baiklah"
"Biar aku saja yang mengantarmu Alya" Ucap Niall
"Tidak usah Niall, kau mengantar Amy saja, kasihan dia sendiri menunggumu diruangan" kataku lalu pergi bersama Harry, namun Niall tetap mengejarku dan menggenggam tanganku, kali ini lebih lembut.
"Tolong, aku ingin mengantarmu pulang, Alya" Ucapnya.
"Tidakkah kau mendengar apa yang ia ucapkan, dia hanya ingin pulang denganku, bukan denganmu" Ucap Harry sambil melepaskan genggaman tangan Niall padaku. Aku pergi begitu saja disusul Harry disampingku.
Aku masuk kedalam mobil dengan keadaan kacau, air mata membanjiri pipiku, tak kusangka mereka akan melakukan hal itu dibelakangku. Harry masuk kedalam mobil, aku menghapus airmataku dan mencoba tetap tegar.
"kau tau, aku sebenarnya sudah tau kejadian ini" katanya sambil mengelus kepalaku, mencoba menenangkanku
"diamlah Harry, tolong antarkan aku pulang"
"baiklah, tapi berjanjilah jangan menangis lagi" dia memberikan jari kelingkingnya padaku.
"okay, pinky swear"
Harry kemudian menyalakan mobilnya, dan mengantarku pulang. Selama perjalanan tak ada pembicaraan sama sekali, dan itu membuatku nyaman.
Mar 4, 2014
Short Story: More Than This 2
at Ireland
Niall's POV's
"Thank you for last night babe ,you always make me happy,love you" ucapku kepada seorang wanita yang menemaniku ke club tadi malam
"your welcome honey ,if you need me again ,please call me" ucap wanita sexy dan cantik itu kepadaku
"okay babe.."
Akhirnya aku mendapat liburan dari semua tugas-tugas kuliahku yang benar-benar melelahkan .Dan pergi menjauh dari wanita yang terlalu menggilaiku siapa lagi kalau bukan Alyssa ,gadis bradford yang sangat-sangat tergila-gila padaku .Aku dan dia memang berpacaran aku senang berada didekatnya ,tapi rasa sayang itu sekarang sudah mulai memudar ,aku tidak tahu mengapa.
Menurutku Alyssa memang seorang wanita yang perfect tapi entah mengapa aku selalu benci ketika dia menceritakan tentang sahabat nya dari bradford itu ya dia bernama Zayn .Aku tak tahu apakah rasa sayangnya hanya untukku saja atau terbagi menjadi dua kepada dia. Untuk menghilangkan stres aku tadi malam ke club untuk nge-drunk dan sampai akhirnya aku bertemu wanita itu.Sudah berapa lama aku tidak menghubunginya ,mungkin hampir 3hari .Baiklah sepertinya aku harus menghubunginya sekarang .
Alyssa POV's
“Niall…” aku kira dia sudah tidak memperdulikan aku lagi ,sebaiknya aku mengangkatnya.
“yaa hallo…” jawabku
“haiii babe ,how are you ? I really miss you so much”
“I think you don’t care with me again niall..”
“what you think ?? I really love you why you so thinking like that”
“really ?? ohh Nialler I miss you too so much ..”
“yes babe ,I want meet you now ,okay maybe tomorrow I’ll come to Bradford to see you “
“okay ,I will waiting honey..”
“sepertinya aku tidak bisa berlama-lama berbicara denganmu babe ,mungkin nanti aku akan menelpon lagi ,love you more Alyssa Almira Adisson”
“okay , aku mengerti ,love you too Niall James Horan” kenapa Niall begitu cepat mengakhiri telponnya ,padahal aku masih ingin melepas rasa kangenku padanya ,tapi tak apalah besok kan dia akan ke Bradford menemuiku semoga dia tidak membohongiku lagi
Zayn POV’s
Senangnya hari ini aku bisa jalan berdua lagi dengan Alyssa seperti dulu ,tidak ada Niall . Aku senang jika tidak ada Niall karna dia selalu saja membuat aku dan Alyssa menjauh .Mengapa Alyssa tidak bisa menyayangi dan mencintaiku ,mengapa dia lebih memilih Niall padahal aku jauh lebih lama mengenal Alyssa daripada Niall .
Aku selalu memikirkan hal ini ,aku selalu ada saat Alyssa sedang terpuruk ataupun senang ,aku selalu memberinya saran-saran hebat untuk membuatnya menjadi lebih baik tapi mengapa Alyssa tidak melihat semua kebaikanku ini . Aku sebenarnya sudah jauh lebih lama mengenal Niall daripada Alyssa ,seandainya Alyssa tau siapa Niall sebenarnya mungkin dia akan memilih aku daripada Niall .
Alyssa hanya melihat Niall dari luar karna ia sudah dibutakan oleh semua janji-janji manis Niall yang pasti akan membuat semua wanita yang mendengarnya menjadi luluh dan jatuh hati padanya .sungguh hebat semua permainanmu selama ini Niall .
Aku bertemu pertama kali dengan Niall saat aku sedang liburan ke Ireland ,aku melihat Niall sedang bermain dengan wanita-wanita penghibur di sebuah club malam ,semenjak saat itu aku sudah yakin kalau Niall adalah bukan laki-laki baik-baik. Dan tidak lama setelah itu aku mendapat kabar dari Alyssa kalo dia berpacaran dengan Niall .
Oh god mulai saat itu aku berdoa semoga Alyssa tidak disakiti oleh Niall ,tapi tadi dia menangis dipelukanku ,hatiku rasanya hancur melihat orang yang sangat-sangat aku cintai harus menangisi orang seperti Niall yang tidak pantas mendapatkan kasih sayang yang tulus dari seorang Alyssa Almira Adisson. Tidak pernah aku melihat Alyssa menangis sesedih tadi ,semoga itu tangisan terakhir alys karna Niall. Sebaiknya sore ini aku ajak dia jalan ke Mall untuk menghiburnya .
Sore pun tiba ,aku sudah siap dengan jeans hitam ,T-shirt , kemeja kotak-kotak yang kupakai asal dan juga sepatu Nike favoritku .Langsung aku berjalan ke rumah Alyss ,Alyss tidak tahu kalau sore ini aku akan mengajaknya jalan-jalan .Semoga dia tidak menolak ajakanku ini.
At Alyssa’s Home
Karna aku sudah sangat dekat dengan keluarga Alyss bahkan mungkin sudah dianggap anak sendiri oleh orang tua Alyss akupun langsung saja masuk tanpa mengetuk pintu dulu. Akupun duduk di sofa dan tiba-tiba Alys’s mom datang menghampiriku
“hei Zayn ,what are you doing here ??”
“I want to hangout with Alyssa mom “ aku memang sudah biasa memanggil Alys’s Mommy dengan sebutan Mom ,Mom sendiri yang memintanya
“oh ide bagus Zayn ,sejak kau pulang tadi pagi dia sudah tidak keluar kamar seharian ini, sebenarnya ada apa dengan Alyssa Zayn ?? ”
“ahhh tidak Mom ,hanya masalah anak muda saja kok, aku sudah member saran kepada tadi”
“oh okay ,sebaiknya kau temui saja dia dikamarnya”
Aku pun langsung pergi ke kamar Alyssa ,dan aku mengetuk pintu kamarnya
TOK TOK TOK
“Al ,alyssa apa aku boleh masuk kedalam”
“ya masuk saja Zayn”
Aku pun membuka pintu kamarnya
“kata Mama kamu seharian ini mengurung diri di kamar ?? kenapa Al ?? kau masih memikirkan Niall ??”
“ya memang benar Zayn ,aku sangat merindukan Niall Zayn ,tadi pagi setelah kau mengantarku pulang Niall menelpon ku dan menanyakan kabarku ,tapi anehnya kenapa dia sedikit dingin yah kepadaku ,seperti bukan Niall yang biasanya Zayn.Awalnya aku senang Niall menghubungiku tapi dia sekarang berubah kepadaku aku bisa merasakannya walaupun Cuma dengan mendengarkan suaranya saja” jelas Alyssa
“ohh ya tadi dia juga bilang kalau dia besok akan ke Bradford untuk menemuiku” lanjutnya lagi. Deg.. tiba tiba ada seperti ada pedang besar menusuk dadaku.
“seharusnya kau senang dong Al ,karna besok kau akan bertemu dengan Niall ,masalah Niall berubah denganmu kau tidak bisa mengatakannya secepat itu mungkin Niall sedang mengerjaimu”
“tapi Zay….”
“shutttt….” Aku meletakkan jari telunjukku tepat ditengah bibir Alyssa
“sudah mendingan sekarang kau ganti baju dan ikut bersamaku”
:mau kemana kita ? aku lagi sedang tidak mood untuk keluar” Tanya Alyssa dengan muka yang polos
“No babe ,hanya mengajakmu bermain di Mall saja lalu kita pergi ketaman kota menghabiskan waktu dengan burung-burung yang sangat indah ,seperti yang biasa kita lakukan ,aku hanya ingin membuatmu bahagia Al”
“oke baiklah Zayn, sepertinya kau sekarang harus tunggu diluar Zayn ,aku ingin berganti baju”
“apa tidak boleh aku disini saja Al ,dulu waktu kecil kita saja kita pernah mandi bersama”
“OMG !!! Zayn jangan bahas itu lagi ,kalo aku mengingatnya aku sangat-sangat malu” terlihat muka Alyssa sangat-sangat merah
“hahahha yaya aku akan keluar Al ,tapi jangan lama-lama ya babe”
“iya Zayn yang bawelnya melebihi mama”
“Asal bicara saja kau Al” ucapku sembari mengacak ngacak rambut Alys yang panjang itu
Niall POV’s
Handphone ku berdering tidak tertera nama disitu hanya tertera nama ,kucoba saja untuk mengangkatnya .
“Hallo ,siapa ini ??
“aku yang tadi malam bersama mu honey “
“ada apa lagi kau menepon ku ??aku sedang tidak membutuhkanmu” ucapku sedikit tegas
“ya aku tau ,tapi aku yang sedang membutuhkanmu ,terlebihnya temanku yang ada di Bradford sedang membutuhukanmu”
“apa maksudmu ??”
“secepatnya saja kau pergi ke Bradford sekarang ,untuk selanjutnya aku akan menghubungimu kembali”
“okay…”
Akupun langsung saja mengambil penerbangan sore ini untuk ke Bradford ,aku tidak tahu apa yang diinginkan wanita tersebut ,tapi ikuti saja lah mau dia ,lagipula sedang tidak ada Alyssa disini .Tapi kan Alyssa sedang di Bradford bagaimana kalo aku dan Alyssa bertemu saat aku sedang bersama wanita itu .Semoga saja tidak
Alyssa POV’s
Aduhhh pake baju apa ya buat jalan sama Zayn nanti ,bingung nih ,yang standar aja kali ya ,ahh biasanya juga pake jeans pendek dan t-shirt with hodie terus pakai sepatu cats ,yasudahlah pake itu saja .Setelah semuanya siap akupun keluar ternyata Zayn menungguku di luar kamar ,kukira dia bakal nunggu dibawah.
“hey Zayn ,kenapa tidak menunggu dibawah saja”
“ahhh biar saja Al ,sudah siap sekarang ??”
“yeahhh I ready honey”
“lets go babe…”
Aku dan Zayn pun izin dengan mama dibawah lalu kami pergi menaiki mobil range rover hitamnya .Didalam mobil aku banyak bercerita padanya, tentang tugas kuliahku yang melelahkan atau teman teman sekampusku yang menyebalkan. Kami tertawa bersama.
Saat sampai di mall, aku berjalan menyusuri taman dan duduk dibangku melihat lihat keadaan taman dan menghirup udara yang kaya akan oksigen ini, saat sedang bercanda tawa dengan zayn tiba tiba zayn menjadi salah tingkah dan mengajakku pergi dari taman.
"what's wrong babe?" kataku padanya, dia tidak menjawab hanya menarik lenganku secara paksa.
"um.. aa nothing, aku hanya ingin mengajakmu ke tempat lain"
"aku ingin disini dulu, apa kamu tidak suka dengan tempat ini?!"
"um.. er.."
Gaya bicara Zayn-ku sudah berubah, dia jadi panik, dan arah pandangannya fokus pada satu tempat, aku menoleh kearah itu, dan kudapati Niall. OMG Niall James Horan-ku ada dibangku dengan nandos kesukaannya, aku segera menghampirinya namun langkahku terhenti, Zayn menahan tanganku, Aku menoleh kearah Zayn.
Kulihat pandangan matanya sedih, ada apa? aku menoleh lagi kearah Niall, sesosok gadis cantik tinggi seperti model sedang berjalan menghampiri Niall dan mencium bibir tipis Niall-ku.
Zayn POV
Sepertinya aku sudah salah mengajak Al-kesayanganku kesini, aku membiarkannya melihat Niall dengan model itu,
aku hanya tertunduk lalu melihat lagi wajah Alyssa, Al nampak sedih, marah, dan cemburu, kugenggam tangannya namun dia melepaskan genggamanku,
dia menoleh kearahku sambil menahan air mata. Oh tidak, jangan menangis Al...
"Itu Niall kan? My Nialler!?" tanya Al dengan nada bicara yang agak tinggi.
"yes, maybe.. i don't know" jawabku bohong, padahal sebenarnya aku tau.
Al segera menghapiri Niall dan model itu, aku mengikutinya dari belakang, Niall nampak kaget
"Alyssa.. Sejak kapan kamu ada disini?" tanya Niall.
"Siapa perempuan ini? Kenapa kamu mau dikecup olehnya?" tanya Al menahan tangisnya.
"Ini gak seperti yang kamu lihat, kita hanya rekan kerja" jawab Niall.
"Horan.. Kamu lupa? Kita sudah jadian dari 2 bulan lalu" Kata perempuan itu, lalu menoleh kearahku.
"Zayn? It's you?! Oh God?!!! Sudah lama aku tak bertemu kamu" katanya sambil menghampiriku lalu memelukku, aku melepas pelukannya.
"Yeah, it's me.." jawabku lemas.
"How are you? Kenapa kamu tak pernah memberi kabar padaku? Kau jahat Malik" Katanya sambil memukul dadaku pelan bercanda.
"I'm fine.. tolong jangan sok akrab padaku" kataku agak jutek padanya.
Alyssa kaget melihat keakrabanku dengan Barbara, ya.. model tinggi cantik yang sedang booming di majalah majalah minggu ini, kini dia resmi berstatus dengan Niall tanpa publik tau, ya.. tanpa Alyssa tau juga. Hanya aku, Niall, dan Barbara yang tau tentang hubungan mereka.
"Jadi.. kamu udah jadia..." kata kata Alyssa terputus, Barbara kembali memeluk Niall dengan mesra hingga membuat air mata Al jatuh dengan mulus dipipinya. Aku sungguh tak tega melihat wajah baby face-nya yang sedang menangis itu.
"Tunggu Al, ini tak seperti yang kamu kira" kata Niall
"sudahlah aku ingin putus, jangan pernah muncul lagi dihadapanku"
"tapi Al" Niall menggenggam tangan Alyssa, menariknya dengan paksa.
"Lepasin!"
Aku segera bertindak, melepas genggaman Niall.
"Jangan sakitin Al, lo gak cukup apa udah nyakitin dia?"
"Lo gak usah ikut campur" kata Niall dengan nada tinggi
"Jelas gue ikut campur! Gue udah bilang kan, cepat atau lambat hubungan lo sama Barbara bakal ketauan juga"
Niall terdiam, dia tertunduk lemas. Alyssa pergi meninggalkan Niall, aku menyusulnya.
"Kenapa kamu gak bilang zayn?" kata Al sambil menghapus air matanya.
"aku.. aku gak mau kamu terluka"
"kalo kayak gini, entah sekarang atau besok sakitnya juga sama aja, kenapa gak jujur sama aku?!"
Alyssa masuk dalam mobil, aku pun juga masuk kedalam mobil. Al menangis sejadi jadinya didalam mobil, dia membentur benturkan
kepalanya dikaca.
"cukup Al.." kataku sambil mengelus pipinya.
"menyingkir! Kamu juga sama aja, kamu bohongin aku.."
"maaf Al, I'm so sorry.. Aku gak bermaksud seperti ini"
Aku merangkul badan mungilnya dengan protektif, dia menangis dalam dekapanku.
Alyssa POV
Aku tak habis pikir, apa maksud Zayn dan Niall seperti ini?
Niall yang kukenal kini sudah berubah, dan kenapa Zayn yang tau tentang perselingkuhan ini diam saja?!
Aku menangis sejadi jadinya dalam pelukan Zayn, bagaimana bisa.. orang yang aku jaga hubungan ini, orang yang aku sayangi, orang yang aku pertahankan, dan orang yang aku panggil dengan sebutan Nialler-ku.. kini dia bercumbu dengan wanita lain, ini sungguh sungguh menyakitkan.
Beberapa bulan..
Aku habiskan di kampus dengan mengurung diri, berangkat kampus.. pulang.. berangkat lagi.. pulang..
hanya itu itu saja pekerjaanku selama ini. Aku masih sedih dan sangat trauma dengan kejadian Niall dan Barbara. Bahkan sampai sekarang, aku selalu
menghindar bila berjumpa dengan Niall.. aku terlalu pecundang
Aku pulang dari kampus seperti biasa, begitu masuk kamar aku kaget melihat koper didekat pintu, saat masuk kedalam kamar kulihat Zayn sedang tertidur pulas dikasurku, aku tersenyum simpul, aku meletakkan tasku dan duduk dikasur, disebelah Zayn..
Ku elus pipinya dengan lembut.. Dia sudah kuanggap adikku sendiri, aku sangat menyayanginya. Walaupun aku membenci Niall, bagaiamana mungkin aku bisa membenci Zayn? Aku menyentuh lembut pipinya sekali lagi.
Ah.. Aku lapar, ku buatkan saja dia Sup Jagung kesukaannya, Aku segera berdiri untuk membuatkannya makanan, tiba tiba tangannya menggenggam tanganku,
aku kaget, ternyata dia tidak tidur.
"sentuh lagi pipiku Al.." katanya pelan dengan mata tertutup.
"hah?"
Kali ini matanya terbuka, dia menarik tanganku, menyuruhku duduk lagi disebelahnya..
"sentuh lagi pipiku"
"oke.."
Aku menyentuh pipinya lagi, ada apa dengannya? Sikapnya jadi aneh dan manja?
"Sentuh lagi pipiku, tapi kali ini dengan cara yang berbeda"
"Cara berbeda seperti apa?"
"mm... seperti" katanya sambil berpikir.
"Seperti kamu menyentuh pipi Niall, bukan.. seperti kamu mencintaiku sebagai kekasih, bukan Adik"
Aku terbelalak, aku kaget mendengar ucapan Zayn.. Tak biasanya dia berbicara seperti ini, terakhir dia berbicara seperti itu saat kita masih kecil, sangaaat kecil dan itu kuanggap cinta monyet.
"hah?! Are you kidding me?"
"No! Aku serius Al.." katanya lembut, lalu dia duduk dan memegang kedua tanganku.
"Would you be my girlfriend?" katanya dengan lengkungan senyum yang indah dibibirnya.
Niall's POV's
"Thank you for last night babe ,you always make me happy,love you" ucapku kepada seorang wanita yang menemaniku ke club tadi malam
"your welcome honey ,if you need me again ,please call me" ucap wanita sexy dan cantik itu kepadaku
"okay babe.."
Akhirnya aku mendapat liburan dari semua tugas-tugas kuliahku yang benar-benar melelahkan .Dan pergi menjauh dari wanita yang terlalu menggilaiku siapa lagi kalau bukan Alyssa ,gadis bradford yang sangat-sangat tergila-gila padaku .Aku dan dia memang berpacaran aku senang berada didekatnya ,tapi rasa sayang itu sekarang sudah mulai memudar ,aku tidak tahu mengapa.
Menurutku Alyssa memang seorang wanita yang perfect tapi entah mengapa aku selalu benci ketika dia menceritakan tentang sahabat nya dari bradford itu ya dia bernama Zayn .Aku tak tahu apakah rasa sayangnya hanya untukku saja atau terbagi menjadi dua kepada dia. Untuk menghilangkan stres aku tadi malam ke club untuk nge-drunk dan sampai akhirnya aku bertemu wanita itu.Sudah berapa lama aku tidak menghubunginya ,mungkin hampir 3hari .Baiklah sepertinya aku harus menghubunginya sekarang .
Alyssa POV's
“Niall…” aku kira dia sudah tidak memperdulikan aku lagi ,sebaiknya aku mengangkatnya.
“yaa hallo…” jawabku
“haiii babe ,how are you ? I really miss you so much”
“I think you don’t care with me again niall..”
“what you think ?? I really love you why you so thinking like that”
“really ?? ohh Nialler I miss you too so much ..”
“yes babe ,I want meet you now ,okay maybe tomorrow I’ll come to Bradford to see you “
“okay ,I will waiting honey..”
“sepertinya aku tidak bisa berlama-lama berbicara denganmu babe ,mungkin nanti aku akan menelpon lagi ,love you more Alyssa Almira Adisson”
“okay , aku mengerti ,love you too Niall James Horan” kenapa Niall begitu cepat mengakhiri telponnya ,padahal aku masih ingin melepas rasa kangenku padanya ,tapi tak apalah besok kan dia akan ke Bradford menemuiku semoga dia tidak membohongiku lagi
Zayn POV’s
Senangnya hari ini aku bisa jalan berdua lagi dengan Alyssa seperti dulu ,tidak ada Niall . Aku senang jika tidak ada Niall karna dia selalu saja membuat aku dan Alyssa menjauh .Mengapa Alyssa tidak bisa menyayangi dan mencintaiku ,mengapa dia lebih memilih Niall padahal aku jauh lebih lama mengenal Alyssa daripada Niall .
Aku selalu memikirkan hal ini ,aku selalu ada saat Alyssa sedang terpuruk ataupun senang ,aku selalu memberinya saran-saran hebat untuk membuatnya menjadi lebih baik tapi mengapa Alyssa tidak melihat semua kebaikanku ini . Aku sebenarnya sudah jauh lebih lama mengenal Niall daripada Alyssa ,seandainya Alyssa tau siapa Niall sebenarnya mungkin dia akan memilih aku daripada Niall .
Alyssa hanya melihat Niall dari luar karna ia sudah dibutakan oleh semua janji-janji manis Niall yang pasti akan membuat semua wanita yang mendengarnya menjadi luluh dan jatuh hati padanya .sungguh hebat semua permainanmu selama ini Niall .
Aku bertemu pertama kali dengan Niall saat aku sedang liburan ke Ireland ,aku melihat Niall sedang bermain dengan wanita-wanita penghibur di sebuah club malam ,semenjak saat itu aku sudah yakin kalau Niall adalah bukan laki-laki baik-baik. Dan tidak lama setelah itu aku mendapat kabar dari Alyssa kalo dia berpacaran dengan Niall .
Oh god mulai saat itu aku berdoa semoga Alyssa tidak disakiti oleh Niall ,tapi tadi dia menangis dipelukanku ,hatiku rasanya hancur melihat orang yang sangat-sangat aku cintai harus menangisi orang seperti Niall yang tidak pantas mendapatkan kasih sayang yang tulus dari seorang Alyssa Almira Adisson. Tidak pernah aku melihat Alyssa menangis sesedih tadi ,semoga itu tangisan terakhir alys karna Niall. Sebaiknya sore ini aku ajak dia jalan ke Mall untuk menghiburnya .
Sore pun tiba ,aku sudah siap dengan jeans hitam ,T-shirt , kemeja kotak-kotak yang kupakai asal dan juga sepatu Nike favoritku .Langsung aku berjalan ke rumah Alyss ,Alyss tidak tahu kalau sore ini aku akan mengajaknya jalan-jalan .Semoga dia tidak menolak ajakanku ini.
At Alyssa’s Home
Karna aku sudah sangat dekat dengan keluarga Alyss bahkan mungkin sudah dianggap anak sendiri oleh orang tua Alyss akupun langsung saja masuk tanpa mengetuk pintu dulu. Akupun duduk di sofa dan tiba-tiba Alys’s mom datang menghampiriku
“hei Zayn ,what are you doing here ??”
“I want to hangout with Alyssa mom “ aku memang sudah biasa memanggil Alys’s Mommy dengan sebutan Mom ,Mom sendiri yang memintanya
“oh ide bagus Zayn ,sejak kau pulang tadi pagi dia sudah tidak keluar kamar seharian ini, sebenarnya ada apa dengan Alyssa Zayn ?? ”
“ahhh tidak Mom ,hanya masalah anak muda saja kok, aku sudah member saran kepada tadi”
“oh okay ,sebaiknya kau temui saja dia dikamarnya”
Aku pun langsung pergi ke kamar Alyssa ,dan aku mengetuk pintu kamarnya
TOK TOK TOK
“Al ,alyssa apa aku boleh masuk kedalam”
“ya masuk saja Zayn”
Aku pun membuka pintu kamarnya
“kata Mama kamu seharian ini mengurung diri di kamar ?? kenapa Al ?? kau masih memikirkan Niall ??”
“ya memang benar Zayn ,aku sangat merindukan Niall Zayn ,tadi pagi setelah kau mengantarku pulang Niall menelpon ku dan menanyakan kabarku ,tapi anehnya kenapa dia sedikit dingin yah kepadaku ,seperti bukan Niall yang biasanya Zayn.Awalnya aku senang Niall menghubungiku tapi dia sekarang berubah kepadaku aku bisa merasakannya walaupun Cuma dengan mendengarkan suaranya saja” jelas Alyssa
“ohh ya tadi dia juga bilang kalau dia besok akan ke Bradford untuk menemuiku” lanjutnya lagi. Deg.. tiba tiba ada seperti ada pedang besar menusuk dadaku.
“seharusnya kau senang dong Al ,karna besok kau akan bertemu dengan Niall ,masalah Niall berubah denganmu kau tidak bisa mengatakannya secepat itu mungkin Niall sedang mengerjaimu”
“tapi Zay….”
“shutttt….” Aku meletakkan jari telunjukku tepat ditengah bibir Alyssa
“sudah mendingan sekarang kau ganti baju dan ikut bersamaku”
:mau kemana kita ? aku lagi sedang tidak mood untuk keluar” Tanya Alyssa dengan muka yang polos
“No babe ,hanya mengajakmu bermain di Mall saja lalu kita pergi ketaman kota menghabiskan waktu dengan burung-burung yang sangat indah ,seperti yang biasa kita lakukan ,aku hanya ingin membuatmu bahagia Al”
“oke baiklah Zayn, sepertinya kau sekarang harus tunggu diluar Zayn ,aku ingin berganti baju”
“apa tidak boleh aku disini saja Al ,dulu waktu kecil kita saja kita pernah mandi bersama”
“OMG !!! Zayn jangan bahas itu lagi ,kalo aku mengingatnya aku sangat-sangat malu” terlihat muka Alyssa sangat-sangat merah
“hahahha yaya aku akan keluar Al ,tapi jangan lama-lama ya babe”
“iya Zayn yang bawelnya melebihi mama”
“Asal bicara saja kau Al” ucapku sembari mengacak ngacak rambut Alys yang panjang itu
Niall POV’s
Handphone ku berdering tidak tertera nama disitu hanya tertera nama ,kucoba saja untuk mengangkatnya .
“Hallo ,siapa ini ??
“aku yang tadi malam bersama mu honey “
“ada apa lagi kau menepon ku ??aku sedang tidak membutuhkanmu” ucapku sedikit tegas
“ya aku tau ,tapi aku yang sedang membutuhkanmu ,terlebihnya temanku yang ada di Bradford sedang membutuhukanmu”
“apa maksudmu ??”
“secepatnya saja kau pergi ke Bradford sekarang ,untuk selanjutnya aku akan menghubungimu kembali”
“okay…”
Akupun langsung saja mengambil penerbangan sore ini untuk ke Bradford ,aku tidak tahu apa yang diinginkan wanita tersebut ,tapi ikuti saja lah mau dia ,lagipula sedang tidak ada Alyssa disini .Tapi kan Alyssa sedang di Bradford bagaimana kalo aku dan Alyssa bertemu saat aku sedang bersama wanita itu .Semoga saja tidak
Alyssa POV’s
Aduhhh pake baju apa ya buat jalan sama Zayn nanti ,bingung nih ,yang standar aja kali ya ,ahh biasanya juga pake jeans pendek dan t-shirt with hodie terus pakai sepatu cats ,yasudahlah pake itu saja .Setelah semuanya siap akupun keluar ternyata Zayn menungguku di luar kamar ,kukira dia bakal nunggu dibawah.
“hey Zayn ,kenapa tidak menunggu dibawah saja”
“ahhh biar saja Al ,sudah siap sekarang ??”
“yeahhh I ready honey”
“lets go babe…”
Aku dan Zayn pun izin dengan mama dibawah lalu kami pergi menaiki mobil range rover hitamnya .Didalam mobil aku banyak bercerita padanya, tentang tugas kuliahku yang melelahkan atau teman teman sekampusku yang menyebalkan. Kami tertawa bersama.
Saat sampai di mall, aku berjalan menyusuri taman dan duduk dibangku melihat lihat keadaan taman dan menghirup udara yang kaya akan oksigen ini, saat sedang bercanda tawa dengan zayn tiba tiba zayn menjadi salah tingkah dan mengajakku pergi dari taman.
"what's wrong babe?" kataku padanya, dia tidak menjawab hanya menarik lenganku secara paksa.
"um.. aa nothing, aku hanya ingin mengajakmu ke tempat lain"
"aku ingin disini dulu, apa kamu tidak suka dengan tempat ini?!"
"um.. er.."
Gaya bicara Zayn-ku sudah berubah, dia jadi panik, dan arah pandangannya fokus pada satu tempat, aku menoleh kearah itu, dan kudapati Niall. OMG Niall James Horan-ku ada dibangku dengan nandos kesukaannya, aku segera menghampirinya namun langkahku terhenti, Zayn menahan tanganku, Aku menoleh kearah Zayn.
Kulihat pandangan matanya sedih, ada apa? aku menoleh lagi kearah Niall, sesosok gadis cantik tinggi seperti model sedang berjalan menghampiri Niall dan mencium bibir tipis Niall-ku.
Zayn POV
Sepertinya aku sudah salah mengajak Al-kesayanganku kesini, aku membiarkannya melihat Niall dengan model itu,
aku hanya tertunduk lalu melihat lagi wajah Alyssa, Al nampak sedih, marah, dan cemburu, kugenggam tangannya namun dia melepaskan genggamanku,
dia menoleh kearahku sambil menahan air mata. Oh tidak, jangan menangis Al...
"Itu Niall kan? My Nialler!?" tanya Al dengan nada bicara yang agak tinggi.
"yes, maybe.. i don't know" jawabku bohong, padahal sebenarnya aku tau.
Al segera menghapiri Niall dan model itu, aku mengikutinya dari belakang, Niall nampak kaget
"Alyssa.. Sejak kapan kamu ada disini?" tanya Niall.
"Siapa perempuan ini? Kenapa kamu mau dikecup olehnya?" tanya Al menahan tangisnya.
"Ini gak seperti yang kamu lihat, kita hanya rekan kerja" jawab Niall.
"Horan.. Kamu lupa? Kita sudah jadian dari 2 bulan lalu" Kata perempuan itu, lalu menoleh kearahku.
"Zayn? It's you?! Oh God?!!! Sudah lama aku tak bertemu kamu" katanya sambil menghampiriku lalu memelukku, aku melepas pelukannya.
"Yeah, it's me.." jawabku lemas.
"How are you? Kenapa kamu tak pernah memberi kabar padaku? Kau jahat Malik" Katanya sambil memukul dadaku pelan bercanda.
"I'm fine.. tolong jangan sok akrab padaku" kataku agak jutek padanya.
Alyssa kaget melihat keakrabanku dengan Barbara, ya.. model tinggi cantik yang sedang booming di majalah majalah minggu ini, kini dia resmi berstatus dengan Niall tanpa publik tau, ya.. tanpa Alyssa tau juga. Hanya aku, Niall, dan Barbara yang tau tentang hubungan mereka.
"Jadi.. kamu udah jadia..." kata kata Alyssa terputus, Barbara kembali memeluk Niall dengan mesra hingga membuat air mata Al jatuh dengan mulus dipipinya. Aku sungguh tak tega melihat wajah baby face-nya yang sedang menangis itu.
"Tunggu Al, ini tak seperti yang kamu kira" kata Niall
"sudahlah aku ingin putus, jangan pernah muncul lagi dihadapanku"
"tapi Al" Niall menggenggam tangan Alyssa, menariknya dengan paksa.
"Lepasin!"
Aku segera bertindak, melepas genggaman Niall.
"Jangan sakitin Al, lo gak cukup apa udah nyakitin dia?"
"Lo gak usah ikut campur" kata Niall dengan nada tinggi
"Jelas gue ikut campur! Gue udah bilang kan, cepat atau lambat hubungan lo sama Barbara bakal ketauan juga"
Niall terdiam, dia tertunduk lemas. Alyssa pergi meninggalkan Niall, aku menyusulnya.
"Kenapa kamu gak bilang zayn?" kata Al sambil menghapus air matanya.
"aku.. aku gak mau kamu terluka"
"kalo kayak gini, entah sekarang atau besok sakitnya juga sama aja, kenapa gak jujur sama aku?!"
Alyssa masuk dalam mobil, aku pun juga masuk kedalam mobil. Al menangis sejadi jadinya didalam mobil, dia membentur benturkan
kepalanya dikaca.
"cukup Al.." kataku sambil mengelus pipinya.
"menyingkir! Kamu juga sama aja, kamu bohongin aku.."
"maaf Al, I'm so sorry.. Aku gak bermaksud seperti ini"
Aku merangkul badan mungilnya dengan protektif, dia menangis dalam dekapanku.
Alyssa POV
Aku tak habis pikir, apa maksud Zayn dan Niall seperti ini?
Niall yang kukenal kini sudah berubah, dan kenapa Zayn yang tau tentang perselingkuhan ini diam saja?!
Aku menangis sejadi jadinya dalam pelukan Zayn, bagaimana bisa.. orang yang aku jaga hubungan ini, orang yang aku sayangi, orang yang aku pertahankan, dan orang yang aku panggil dengan sebutan Nialler-ku.. kini dia bercumbu dengan wanita lain, ini sungguh sungguh menyakitkan.
Beberapa bulan..
Aku habiskan di kampus dengan mengurung diri, berangkat kampus.. pulang.. berangkat lagi.. pulang..
hanya itu itu saja pekerjaanku selama ini. Aku masih sedih dan sangat trauma dengan kejadian Niall dan Barbara. Bahkan sampai sekarang, aku selalu
menghindar bila berjumpa dengan Niall.. aku terlalu pecundang
Aku pulang dari kampus seperti biasa, begitu masuk kamar aku kaget melihat koper didekat pintu, saat masuk kedalam kamar kulihat Zayn sedang tertidur pulas dikasurku, aku tersenyum simpul, aku meletakkan tasku dan duduk dikasur, disebelah Zayn..
Ku elus pipinya dengan lembut.. Dia sudah kuanggap adikku sendiri, aku sangat menyayanginya. Walaupun aku membenci Niall, bagaiamana mungkin aku bisa membenci Zayn? Aku menyentuh lembut pipinya sekali lagi.
Ah.. Aku lapar, ku buatkan saja dia Sup Jagung kesukaannya, Aku segera berdiri untuk membuatkannya makanan, tiba tiba tangannya menggenggam tanganku,
aku kaget, ternyata dia tidak tidur.
"sentuh lagi pipiku Al.." katanya pelan dengan mata tertutup.
"hah?"
Kali ini matanya terbuka, dia menarik tanganku, menyuruhku duduk lagi disebelahnya..
"sentuh lagi pipiku"
"oke.."
Aku menyentuh pipinya lagi, ada apa dengannya? Sikapnya jadi aneh dan manja?
"Sentuh lagi pipiku, tapi kali ini dengan cara yang berbeda"
"Cara berbeda seperti apa?"
"mm... seperti" katanya sambil berpikir.
"Seperti kamu menyentuh pipi Niall, bukan.. seperti kamu mencintaiku sebagai kekasih, bukan Adik"
Aku terbelalak, aku kaget mendengar ucapan Zayn.. Tak biasanya dia berbicara seperti ini, terakhir dia berbicara seperti itu saat kita masih kecil, sangaaat kecil dan itu kuanggap cinta monyet.
"hah?! Are you kidding me?"
"No! Aku serius Al.." katanya lembut, lalu dia duduk dan memegang kedua tanganku.
"Would you be my girlfriend?" katanya dengan lengkungan senyum yang indah dibibirnya.
Label:
Directioners,
Niall,
Niall Love Story,
NLS,
One Direction,
Short Story,
Zayn,
Zayn Love Story,
ZLS
Subscribe to:
Posts (Atom)